Anindya Bakrie Sebut Isu Iklim Sangat Personal bagi Indonesia di Milken Summit 2025
Poin Penting
|
SINGAPURA, Investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan bahwa isu perubahan iklim memiliki arti personal bagi Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam forum internasional Milken Asia Summit 2025 di Singapura pada Sabtu (4/10/2025).
“Ketika kita bicara tentang perubahan iklim untuk Indonesia, ini sangat-sangat personal. Kami berasal dari negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 17.500 pulau. Beberapa di antaranya bahkan mulai menghilang di depan mata kita,” kata Anindya dalam paparannya.
Anindya menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi menyentuh aspek keseharian masyarakat Indonesia, mulai rantai pasok pangan, ketersediaan air, hingga energi. Menurutnya, komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emission pada 2060 harus didorong untuk dicapai lebih cepat dengan kolaborasi lintas sektor.
Baca Juga
Lewat “Climate Catalytic Fund”, Kadin Jadi Jembatan untuk Hadapi Perubahan Iklim
“Itu sebabnya, ketika kami berkomitmen untuk mencapai net zero pada 2060, kami sebenarnya ingin mencapainya lebih cepat, tentu dengan bantuan dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Anindya menyoroti peran Indonesia dalam mendukung agenda dekarbonisasi global. Indonesia memiliki cadangan mineral kritis, seperti nikel dan tembaga yang dibutuhkan dalam transisi energi. Selain itu, potensi energi terbarukan dari matahari, air, angin, dan panas bumi juga sangat besar.
“3 bulan lalu, Indonesia mempublikasikan target pembangkitan listrik sebesar 103 gigawatt, dan 75% di antaranya berasal dari energi terbarukan. Ini signifikan, karena kapasitas eksisting kita saat ini baru sekitar 75 gigawatt,” jelasnya
Dorongan kolaborasi
Anindya menekankan pentingnya transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta kolaborasi antar-pemangku kepentingan. Kadin Indonesia, kata dia, telah membentuk Kadin Net Zero Hub untuk membantu perusahaan menyusun roadmap nol emisi karbon. Selain itu, Carbon Center of Excellence juga disiapkan sebagai pusat pengetahuan dan kolaborasi pengelolaan karbon.
“Di Kadin, kami percaya pada kolaborasi. Pekan lalu saat Climate Week di Sidang Umum PBB, kami bekerja sama dengan Bloomberg untuk menyusun Energy Transition Factbook, agar semua upaya kita berbasis data,” ungkap Anindya.
Ia menambahkan bahwa budaya gotong royong Indonesia adalah modal sosial penting dalam menghadapi krisis iklim. Data dari Charitable Aid Foundation menunjukkan Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia selama tujuh tahun berturut-turut. “Ini relevan, karena kita juga harus mencari cara untuk menghubungkan semangat kedermawanan itu dengan solusi iklim,” katanya.
Baca Juga
Laporan Iklim: 1,5 Juta Warga Australia Terancam Kenaikan Permukaan Air Laut di 2050
Milken Asia Summit 2025, yang digelar oleh Milken Institute, mempertemukan pemimpin global dari sektor bisnis, pemerintahan, keuangan, teknologi, dan filantropi. Kehadiran Kadin Indonesia dalam forum tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dalam transisi energi dan upaya global menekan perubahan iklim.
“Indonesia berada di posisi yang unik. Kita memiliki sumber daya, semangat gotong royong, dan kini kita perlu keterampilan serta kemitraan untuk mewujudkannya,” tutup Anindya.

