Rupiah Masih Lanjutkan Pelemahan di Rp 16.770 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah masih mengalami pelemahan hingga Jumat (26/9/2025). Rupiah mengalami pelemahan di Rp 16.770 per US$ atau melemah -20 poin atau terdepresiasi -0,12% menurut data Bloomberg per pukul 10.30 WIB.
Senada dengan rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga terpantau redup. Won Korea Selatan terpantau melemah -0,13% dan ringgit Malaysia terpantau terdepresiasi -0,25%, peso Filipina mengalami koreksi sebesar -0,1%, serta baht Thailand terkoreksi -0,06%.
Di sisi lainnya, yuan China terapresiasi 0,01%, dolar Hongkong menguat 0,03%, dan yen Jepang menguat 0,06%. Sementara itu, dolar Singapura menguat 0,09%.
Berdasarkan analisis, perdagangan nilai tukar rupiah masih menunjukkan kondisi fluktuatif. Diperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bergerak di kisaran Rp 16.722-Rp 16.815 per US$.
Baca Juga
Rupiah Turun Signifikan! BI Pastikan Gunakan Seluruh Instrumen untuk Intervensi Pasar
Kondisi rupiah yang melorot ini direspons tangkas oleh Bank Indonesia (BI). BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Mata Uang Garuda.
“Bank Indonesia menggunakan seluruh instrumen yang ada secara bold, baik di pasar domestik melalui instrumen spot (DNDF) Domestic Non-Deliveable Forward, dan pembelian SBN di pasar sekunder, maupun di pasar luar negeri di Asia, Eropa, dan Amerika secara terus menerus, melalui intervensi NDF," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dalam keterangan resminya, Jumat (26/9/2025).
Pergerakan rupiah pagi ini turut dipengaruhi faktor eksternal. Pasar saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Kamis (25/9/2025). Dow Jones turun -0,38% ke 45.947 dan S&P 500 terkoreksi -0,50% ke 6.605. Ini terjadi karena investor mencerna revisi PDB AS kuartal II-2025 menjadi 3,8% secara tahunan.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik tipis 3 basis poin (bps) menjadi 4,14%. Peralihan ini terjadi karena revisi PDB dan fokus yang mulai bergeser ke laporan inflasi pada Jumat yang akan menjadi panduan langkah the Fed berikutnya.
Di dalam negeri, IHSG turun 1,1% ke 8.041. Aliran keluar asing tercatat mencapai Rp 1 triliun dengan net outflow sebesar Rp 54,2 triliun year to date.
Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) 10 Tahun naik 3,3 bps ke 6,4%. Imbal hasil obligasi pemerintah untuk dolar AS tenor 10 tahun naik 0,7 bps ke 5%.

