Rupiah Nyaris Rp 16.500 per US$, Efek Sentimen Pelebaran Defisit dan Penurunan BI Rate
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami depresiasi pada Kamis sore (18/9/2025). Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah melemah -68 poin atau melemah 0,41% menjadi Rp 16.498 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Future Lukman Leong mengatakan rupiah melemah karena tertekan oleh kekhawatiran defisit fiskal akibat stimulus pemerintah yang bergulir dalam paket ekonomi 8+4+5. Selain itu pasar juga mengkhawatirkan rencana revisi Rancangan Undang-Undang (RUU) Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
“Dan pemangkasan suku bunga oleh BI,” ujar Lukman kepada investortrust.id, Kamis (18/9/2025).
Lukman juga membenarkan sentimen pasar terhadap rencana pelebaran defisit dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
Baca Juga
The Fed Turunkan Suku Bunga, Rupiah Lunglai ke Rp 16.476 per Dolar AS
Lukman menjelaskan rupiah dan mata uang regional pada umumnya melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Greenback mengalami rebound karena pernyataan Ketua Dewan Gubernur the Fed Jerome Powell.
“Yang tidak se-dovish yang diperkirakan,” kata dia.
Dikutip dari CNBC, imbal hasil US Treasury 10 tahun mengalami kenaikan pasca pemangkasan Fed Fund Rate (FFR) 25 basis poin (bps) menjadi 4%-4,25%. Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 4,5 bps ke 4,074% setelah sempat turun di bawah 4%. Sementara itu, yield US Treasury 2 tahun bertambah hampir 4 bps menjadi 3,549% dan obligasi 30 tahun naik 2,5 bps ke 4,672%.
Penguatan dolar juga terindikasi dengan mulai melemahnya harga emas hingga 1% pada Rabu (17/9/2025) waktu setempat. emas spot turun 0,9% ke level US$3.658,25 per troy ons pada pukul 3 sore waktu New York, setelah sempat menembus rekor US$ 3.707,40. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga melemah tipis 0,2% ke US$ 3.717,8.

