Rupiah Awali Hari di Akhir Pekan dengan Penguatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat pada Jumat (12/9/2025). Data Bloomberg menunjukkan, rupiah menguat 64 poin atau tumbuh 0,39% di level Rp 16.398 per US$.
Dollar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap yen Jepang 0,14%, yuan China sebesar 0,02%, dan dolar Singapura sebesar 0,05%.
Sementara, terhadap baht Thailand, dolar AS melemah 0,11%. Dolar AS juga melemah terhadap ringgit Malaysia, dolar AS melemah sebesar 0,23%, dan dolar Hongkong seebesar 0,07%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan kondisi dolar AS masih dipengaruhi pasar saham AS yang ditutup menguat Kamis (11/09/2025). Dow Jones naik 1,36% ke 46.108,00 dan S&P 500 naik 0,85% ke 6.587,47. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (10Y UST) turun 2,48 bps ke 4,02% (-54,8 bps ytd).
Indeks Dolar (DXY) bergerak datar hingga melemah di sekitar 97,8 pada Kamis setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi, memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed untuk meredam pelemahan pasar tenaga kerja.
Inflasi AS (CPI) naik 0,4% mom pada Agustus 2025, lebih tinggi dari kenaikan Juli sebesar 0,2% dan di atas ekspektasi pasar 0,3%. Ini merupakan kenaikan bulanan tertajam sejak Januari 2025, memicu kekhawatiran bahwa kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump menambah tekanan biaya bagi rumah tangga.
Harga hunian di AS naik 0,4%, sementara biaya pangan meningkat 0,5% didorong kenaikan 0,6% pada indeks makanan di rumah dan 0,3% pada makanan di luar rumah.
"Harga energi AS melonjak 0,7% akibat kenaikan bensin 1,9%. Tekanan tambahan datang dari tarif tiket pesawat, mobil bekas dan truk, pakaian, serta kendaraan baru, sementara penurunan terlihat pada layanan kesehatan, rekreasi, dan komunikasi," ujar Andry.
Pasar uang kini hampir sepenuhnya memperhitungkan tiga kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, dimulai September 2025.
IHSG (11/09/2025) naik 0,64% ke 7.747,91 (+9,4% ytd) dengan arus keluar bersih asing Rp 192,4 miliar (net outflow Rp61,7 triliun ytd). Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 4,0 bps ke 6,4% dan imbal hasil obligasi pemerintah USD tenor 10 tahun turun 3,6 bps ke 5,0%.
Rupiah melemah tipis pada Kamis (11/9/2025) sebesar 0,01% ke Rp16.462 per US$, melemah 2,24% ytd.
Pemerintah Indonesia berencana menyuntikkan sekitar Rp 200 triliun ke perekonomian untuk mendorong pertumbuhan, menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah akan menggunakan sebagian dari Rp 400 triliun cadangan kas yang ditempatkan di Bank Indonesia dan mengembalikannya ke sistem, termasuk melalui penempatan dana di bank BUMN guna mendorong penyaluran kredit.
"Pandangan kami, USD/IDR hari ini akan bergerak di kisaran Rp16.405 – Rp16.493 per US$" ujar dia.

