Usai Healing, Rupiah Bugar Hadapi Dolar AS di Senin Pagi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin pagi (8/9/2025) pukul 09.08 WIB. Rupiah menguat 54 poin atau naik 0,33% di angka Rp 16.379 per US$, berdasarkan Bloomberg.
Data Bloomberg menunjukkan sejumlah mata uang negara-negara di Asia menunjukkan posisi yang berbeda terhadap dolar AS. Bersama Mata Uang Garuda, ringgit Malaysia dan bath Thailand menguat masing-masing (0,26%) dan (0,04%).
Meski demikian, dolar AS masih perkasa bagi yen Jepang, yuan China, dan won Korea Selatan. Terhadap yen, dolar AS menguat 0,43%. Sementara itu, dolar AS menguat 0,03% terhadap yuan dan 0,17% terhadap won.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang melemah cukup tajam.
Kondisi dolar AS turun setelah data pekerjaan AS yang kembali sangat mengecewakan sehingga hampir memastikan the Fed akan memangkas suku bunga bulan ini. Dari domestik, investor menantikan data cadangan devisa.
"Diproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp 16.350- Rp 16.450 per US$" ujar Lukman, Senin (8/9/2025).
Pengamat komoditas dan uang Ibrahim Assuaibi sempat memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.420-Rp 16.470 per US$.
Proyeksi sebelum libur panjang tersebut muncul karena sentimen menguatnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang terjadi karena ketidakpastian tarif perdagangan AS. Selain itu, pasar melihat ekspektasi terhadap data lowongan kerja sebesar 7,18 juta pada Juni 2025. Angka ini lebih buruk dari ekspektasi pasar sebesar 7,4 juta dan memicu kembali kekhawatiran memburuknya kondisi pasar tenaga kerja.
“Kekhawatiran atas independensi the Fed masih ada di tengah pertikaian hukum terkait upaya Trump untuk memecat Gubernur the Fed Lisa Cook,” kata Ibrahim, dalam keterangan resminya, Kamis (4/9/2025).
Di dalam negeri, lembaga pemeringkat Fitch Rating mengingatkan kerusuhan di beberapa titik dapat melemahkan peringkat kredit Indonesia. Ini karena pertumbuhan ekonomi bisa melemah dan sektor keuangan terbebani.
Fitch juga menyoroti ketegangan sosial politik yang meningkat bisa mempengaruhi terhadap pelebaran defisit APBN. Sebab, penyebabnya penerimaan negara sangat terbatas.
“Protes disertai kekerasan dapat berdampak negatif terhadap profil kredit negara,” jelas dia.
Turunnya investasi asing langsung juga dapat membuat Indonesia bergantung pada aliran portofolio yang lebih fluktuatif untuk membiayai defisit neraca berjalan yang semakin melebar.
“Yang diproyeksikan Fitch mencapai 1,3% PDB pada 2025 dan 1,7% pada tahun berikutnya. Adapun pada Maret 2025, Fitch menegaskan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan prospek stabil,” ujar dia.

