Indeks Dolar Dekati 107, Kurs Rupiah Diprediksi Melemah Senin Pagi
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah pada Senin (16/12/2024) diprediksi fluktuatif dengan kecenderungan melemah, seiring tren penguatan indeks dolar AS yang kini sudah mendekati 107. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menuturkan, pada perdagangan valas di pasar spot Jumat (13/12/2024) sore, mata uang Garuda ditutup melemah 64 poin hingga menembus level psikologis Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat, tepatnya Rp 16.008. Pada penutupan hari sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 15.944 per dolar AS.
Dolar AS bersiap untuk minggu terbaik dalam sebulan karena prospek The Fed yang hati-hati dalam pemotongan bunga acuannya untuk tahun 2025. "Pasar sepenuhnya memperkirakan pemangkasan pada pertemuan The Fed Desember ini, tetapi hanya memperkirakan peluang sekitar 24% untuk pemangkasan berikutnya pada bulan Januari 2025, dengan Maret sebagai titik yang paling mungkin untuk pergerakan berikutnya, menurut alat FedWatch CME. Kemungkinan akan ada jeda yang panjang, mungkin untuk seluruh kuartal pertama mendatang dari The Fed, dan kemudian mungkin hanya pemangkasan suku bunga tambahan saat Bank Sentral AS mencoba menyempurnakan kebijakannya,” kata Kepala Riset Pasar StoneX Matt Weller, sebagaimana dilansir Business Times, Minggu (15/12/2024) malam.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam risetnya memaparkan, kurs rupiah diprediksi bergerak fluktuatif terhadap greenback pada Senin. Rupiah kecenderungan akan ditutup melemah di rentang Rp 15.090 - 16.070 per dolar AS.
Baca Juga
Harga Emas Melemah Ditelan Data Producer Price Index (PPI) AS yang Lebih Tinggi
Sementara itu, berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia, kurs rupiah ditutup di level Rp 15.987 per dolar AS pada Jumat sore. Rupiah melemah 0,3% terhadap greenback dibanding hari sebelumnya di level Rp 15.939 per dolar AS.
Yahoo Finance juga mencatat, pada akhir perdagangan valas pekan lalu, rupiah ditutup di level Rp 15.989 per dolar AS. Rupiah melemah 70 poin atau 0,44%. Secara year to date, rupiah sudah terdepresiasi 3,66%.
Berdasarkan data Yahoo Finance, seiring kemenangan Presiden AS Terpilih Donald Trump pada 5 November lalu, indeks dolar AS trennya menguat mendekati 107. Posisi DXY ini sudah 106,94 pada penutupan perdagangan pekan lalu, melambung 5,54% secara year to date.
Faktor Eksternal
Ibrahim menjelaskan sejumlah faktor yang akan memengaruhi pergerakan rupiah. Ia membeberkan, Bank Sentral AS secara luas diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, dari saat ini 4,50-4,75%. Namun, pasar menjadi semakin tidak yakin atas rencana jangka panjangnya untuk pemangkasan suku bunga, terutama karena data minggu ini menunjukkan inflasi AS tetap tinggi.
The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga dengan kecepatan yang lebih lambat pada tahun 2025, setelah merealisasikan pemangkasan suku bunga sebesar 75 bps tahun 2024. Kebijakan ekspansif dan proyeksi inflasi naik di bawah Presiden Terpilih AS Donald Trump juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka panjang.
"Selain keputusan The Fed untuk suku bunga acuan AS, keputusan suku bunga di Jepang dan Inggris juga akan menjadi fokus pasar sepekan ke depan," ujar Ibrahim.
Selain itu, pasar juga mencermati serangkaian langkah stimulus agresif setelah pembaruan dari Konferensi Kerja Ekonomi Pusat (CEWC) Cina, pertemuan dua hari yang berakhir Kamis. Pernyataan media pemerintah menulis, Tiongkok berjanji meningkatkan defisit anggarannya, meningkatkan penerbitan utang, dan melonggarkan kebijakan moneter untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah ketegangan perdagangan yang diantisipasi dengan AS.
"Namun, investor kecewa. Pasar melihat kebijakan tersebut tidak mungkin memberikan momentum ekonomi langsung yang dibutuhkan untuk melawan tekanan deflasi Tiongkok. Di CEWC, Beijing menetapkan target untuk pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, penerbitan utang, dan variabel lain untuk tahun mendatang. Target tersebut disetujui pada pertemuan tersebut, tetapi tidak akan dirilis secara resmi hingga pertemuan parlemen tahunan pada Maret," tuturnya.
Waspadai PPN 12% dan Crowding Out
Ibrahim juga menyoroti dampak kebijakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari saat ini 11% menjadi 12%, yang direncanakan mulai berlaku pada 1 Januari 2025. Kebijakan tersebut berpotensi menambah penerimaan negara hingga Rp 75 triliun, namun efek negatifnya terhadap ekonomi makro tidak dapat diabaikan.
Resiko terhadap inflasi dan daya beli masyarakat harus diwaspadai. "Sebagai contoh, pada 2022 ketika PPN naik menjadi 11%, inflasi meningkat hingga 0,95% dalam satu bulan. Dampak serupa bisa terjadi, bahkan lebih besar. Para ekonom juga memperingatkan potensi efek crowding out pada konsumsi dan investasi. Daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, kemungkinan besar akan tertekan dan ini bisa berdampak pada penurunan konsumsi rumah tangga, yang merupakan motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi," tandasnya.
Selain itu, penting alokasi yang tepat untuk pendapatan tambahan pemerintah dari kenaikan PPN. Pendapatan tersebut harus diarahkan untuk mendukung program-program prorakyat, seperti subsidi kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur dasar.
Baca Juga
Rusia dan Iran Terancam Sanksi Lebih Ketat, Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Tiga Minggu

