Pemerintah Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2025 Terjaga
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sekretaris Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso masih optimistis dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025. Segala upaya akan dilakukan pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025.
“Hanya saja, sekali lagi, banyak faktor di luar kontrol kita seperti global,” kata Susi, sapaannya, ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Salah satu faktor yang ditunggu, kata Susi, yaitu wacana the Fed yang ingin menurunkan suku bunganya. Sementara itu, di dalam negeri, beberapa program stimulus ekonomi harus mulai jalan. “Karena kemarin kan agak telat (stimulusnya)” ujar dia.
Mulai 7-8 Agustus 2025 tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) sudah mulai dikenakan ke mitra dagang. Meski belum berdiskusi dengan para eksportir, Susi mengatakan beberapa eksportir sudah melakukan pengiriman lebih awal atau front loading.
Susi mengatakan, dampak penerapan tarif resiprokal akan mulai terasa sekitar sebulan pasca-pemberlakuan atau 7-8 September 2025. “Sementara, shipment ke sana kan bisa 2-3 minggu sampai sebulan, baru terlihat,” kata dia.
Baca Juga
Ekonomi RI Tertekan, Tarif Impor AS Ancam Pertumbuhan PDB ke Level Terendah dalam 4 Tahun
Sebelum dampak benar-benar dirasakan, Susi mengatakan terus mengejar penyelesaian negosiasi tarif untuk komoditas yang dikecualikan.
Ssebelumnya diberitakan, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025. Pada kuartal II-2025, pertumbuhan ekonomi berdasarkan PDB yaitu atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 5.947 triliun dan atas dasar harga konstans sebesar (ADHK) sebesar Rp 3.396,3 triliun.
“Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025, tumbuh sebesar 5,12% secara tahunan (yoy). Sedangkan secara kuartalan (q-to-q) sebesar 4,04%” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud, di kantor pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Berdasarkan pengeluaran, seluruh komponen tumbuh kecuali konsumsi pemerintah. Konsumsi rumah tangga masih tumbuh 4,97% secara tahunan. “Hal ini mengindikasikan masih kuatnya permintaan domestik,” kata dia.
Selain itu, pembentuk modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,99% secara tahunan. “Dengan demikian, 82,08% PDB kuartal II-2025 berasal dari konsumsi rumah tangga dan PMTB,” kata dia.
Konsumsi pemerintah sendiri terkontraksi -0,33% secara tahunan. Pertumbuhan tinggi terjadi pada komponen ekspor dan impor. Komponen ekspor tumbuh 10,67% secara tahunan dan komponen impor tumbuh 11,85% secara tahunan. Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh sebesar 7,82%.
Baca Juga
BI Terus Cermati Ruang Penurunan BI Rate untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

