Ketua Kadin Minta Publik Objektif Tanggapi Data BPS yang Diragukan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengimbau agar publik bersikap objektif dalam menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diragukan sebagian pihak.
“Saya selalu bilang kalau data sudah diragukan nanti kita bukan hanya membuang-buang waktu, tapi lebih bagus kita memanfaatkan ini semua. Karena di dalam data itu ada dua komponen penting yang kurang dibicarakan adalah yang pertama investasi Capex atau capital formation itu naik. Artinya orang mulai membangun pabrik. Yang kedua impor bahan mentah juga naik, jadi kurang lebih sama,” jelas Anindya saat konferensi pers di Gedung Lemhannas RI, Jakarta, Senin (11/8/2025).
Anindya menambahkan, hasil perdagangan yang positif dengan Amerika Serikat (AS) dan Eropa perlu dimanfaatkan dengan meningkatkan kapasitas produksi. Ia mengingatkan, sektor tekstil, garmen, dan alas kaki yang mempekerjakan sekitar 5 juta orang memiliki peluang besar jika pasar semakin terbuka.
Baca Juga
Kepala BPS Jawab Keraguan Publik Soal Pertumbuhan Ekonomi 5,12%
“Jangan sampai nanti kita punya tenaga kerja buat (sektor) tekstil, garmen, alas kaki, begitu sudah makin terbuka (lapangan kerja), kita malah tidak memanfaatkan. Padahal itu dua saja sudah 5 juta orang kerja di industri itu,” ungkap dia.
Sebelumnya, BPS telah merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025 sebesar 5,12% secara year on year (yoy), dengan nilai produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp 5.947 triliun.
Namun demikian, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebut ada sejumlah kejanggalan dalam data tersebut.
Bhima menyoroti perbedaan signifikan antara data BPS dengan indikator lain seperti Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur. BPS mencatat industri pengolahan tumbuh 5,68%, tetapi PMI Manufaktur justru masih berada di bawah ambang ekspansi sepanjang kuartal II-2025.
