Indef Soroti Pertumbuhan Ekonomi karena Data Lapangan Lesu, Ini Indikatornya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mempertanyakan data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 sebesar 5,12% yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengingat sumber pemicu pertumbuhan tak selaras dengan realitas di masyarakat.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho mengatakan, data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur menunjukkan kontraksi pada kuartal II-2025. Namun, angka pertumbuhan industri pengolahan non-migas yang dirilis BPS menunjukkan pertumbuhan 5,69%.
“Dari sisi dua indikator saja tidak saling berkaitan satu dengan yang lain,” ujar Andry, saat diskusi yang digelar Indef, di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Baca Juga
Sri Mulyani Tepis Keraguan atas Data Pertumbuhan Ekonomi BPS
Selain itu, dari struktur pengeluaran, Andry menyoroti komponen pembentuk modal tetap bruto (PMTB) atau investasi yang tumbuh 6,99% secara tahunan. Dia mempertanyakan pendorong utama belanja investasi tersebut. Jika benar ada investasi, seharusnya menunjukkan ekspansi besar-besaran pelaku usaha.
“Kalau kita bedah lebih lanjut, mesin dan perlengkapan itu menjadi pembentuk yang pertumbuhannya bahkan sampai 25%” ujar dia.
Dalam kesempatan yang sama, ekonom senior Indef, Fadhil Hasan menjelaskan terdapat leading economic indicator yang menunjukkan pelemahan pada kuartal II-2025. Menurutnya, data industri manufaktur yang tumbuh 5,68% secara tahunan itu tidak selaras dengan PMI manufaktur. “Pada kuartal II-2025 ini justru berada di bawah angka 50, artinya kontraksi,” jelas Fadhil.
Selain itu, Fadhil mengemukakan, terjadi pelemahan penjualan kendaraan bermotor baik wholesale maupun retail. Selama Januari-Juni 2025, penjualan wholesale drop sebesar -8,6% dan retail drop sebesar -9,5%.
Fadhil juga menilai, pertumbuhan kredit yang berkebalikan dengan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kredit yang tinggi akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. “Kita melihat bahwa pertumbuhan kredit pada Januari-Juni 2025 itu sebesar 7,7% dibandingkan 8,3% pada Januari-Juni 2024,” ujar dia.
Baca Juga
Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025 Disebut Janggal, Menko Airlangga: Mana Ada!
Dari sisi penerimaan pajak, Fadhil melihat komponen pajak pertambahan nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) turun pada semester I-2025. Pada paruh pertama tahun ini, PPN dan PPnBM hanya Rp 267,3 triliun atau turun dibandingkan semester I-2024 yang sebesar Rp 332,9 triliun.
“Seharusnya, penerimaan pajak itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi tinggi, maka penerimaan pajak, terutama PPnBM juga meningkat,” kata dia.

