Fenomena Shifting ke Belanja Online Dorong Pertumbuhan Industri Ritel
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Fenomena pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia ke platform belanja online semakin nyata dan signifikan. Data terbaru menunjukkan adanya lonjakan aktivitas belanja elektronik yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan sektor ritel nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan transaksi e-retail dan marketplace sebesar 7,55% secara kuartalan (qoq) pada kuartal pertama 2025. Sementara Bank Indonesia melaporkan e-money mengalami pertumbuhan luar biasa sebesar 67,91% secara tahunan (yoy). Di sisi lain, transaksi kartu kredit tumbuh 7,61% yoy, sementara transaksi menggunakan kartu debit justru mengalami kontraksi sebesar -0,96%.
Disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers terkait Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025 di Graha Sawala, Gedung Ali Wardhana, Jakarta, Selasa (5/8/2025), pergeseran konsumsi ini turut terlihat dari peningkatan nilai transaksi online di kategori produk yang sebelumnya lebih banyak dibeli di pusat perbelanjaan fisik.
"Produk personal care dan kosmetik mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 67,6 triliun dengan pertumbuhan tahunan mencapai 16,95%. Sementara itu, produk rumah tangga dan kantor mencatatkan transaksi sebesar Rp 72,8 triliun dengan pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 29,38% yoy," kata Airlangga.
Baca Juga
Fenomena Rombongan Jarang Beli (Rojali) Dituduh Bikin Omzet Mal Anjlok
Peningkatan masif juga terjadi pada jumlah transaksi e-commerce secara keseluruhan. Pada 2018, jumlah transaksi tercatat sebesar 280 juta, sedangkan pada 2024 melonjak drastis menjadi 3,23 miliar transaksi, menunjukkan adopsi yang pesat di kalangan masyarakat.
Meskipun terjadi fenomena shifting ke belanja online, industri ritel nasional tetap menunjukkan kinerja positif.
Emiten-emiten besar di sektor ini masih mampu membukukan pertumbuhan baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. Melansir data Bloomberg, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) pada Semester I - 2025 misalnya, mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 63,81 triliun, atau naik 7,76% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih AMRT juga tumbuh 4,99% yoy menjadi Rp 1,88 triliun.
Sementara itu, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) pada periode yang sama mampu membukukan pendapatan Rp 19,56 triliun dengan pertumbuhan 8,72% yoy dan laba bersih Rp 0,96 triliun atau tumbuh 6,85% yoy.
Sedangkan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), yang juga bergerak di sektor ritel gaya hidup lewat sejumlah brand seperti ZARA, Starbucks, dan Adidas, mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 11,51% yoy menjadi Rp 8,79 triliun dan laba bersih Rp 0,66 triliun dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 12,87% yoy.

