Sri Mulyani Ungkap Tantangan Dongkrak Ekonomi Indonesia di Atas 6% pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan tantangan yang harus dihadapi pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi di atas 6%. Adapun target pertumbuhan ekonomi di atas 6% diusulkan Fraksi Gerindra dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
“Kami menghargai pandangan lebih optimistis Fraksi Gerindra agar batas atas pertumbuhan ekonomi mencapai 6,3% dan PKB dengan batas atas 6%” kata Sri Mulyani saat pidato di Sidang Paripurna DPR RI ke-21 Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2024-2025, di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (1/7/2025).
Menurut Sri Mulyani, tantangan besar pertumbuhan ekonomi berasal dari sisi permintaan. Artinya, konsumsi rumah tangga harus didorong lebih tinggi mencapai 5,5% mengingat komponen berkontribusi 55% pada produk domestik bruto (PDB).
“Ini berarti, pemerintah harus menciptakan lingkungan kesempatan kerja sehingga income masyarakat dapat meningkat,” jelas dia.
Baca Juga
Sri Mulyani Targetkan Investasi Rp 7.500 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6% di 2026
Selain itu, untuk mendorong konsumsi masyarakat, pemerintah akan menggencarkan program prioritas, di antaranya Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi 2,3 juta debitur, dan program perlindungan sosial (perlinsos).
Dari sisi investasi, Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah perlu menjaga dan meningkatkan dana yang masuk pada 5,9% secara tahunan. Dengan besaran ini, artinya pemerintah perlu menargetkan pertumbuhan investasi minimal Rp 7.500 triliun.
“Komponen investasi berkontribusi 30% terhadap PDB. Apabila digabungkan dengan konsumsi, maka keduanya berkontribusi 85% terhadap perekonomian,” jelas dia.
Dari sisi ekspor, pemerintah berharap pada hilirisasi. Sejak pertama kali digulirkan, hilirisasi berkontribusi terhadap ekspor karena menciptakan nilai tambah produk ekspor Tanah Air.
“Ekspor harus tumbuh 6,8% untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ini target yang tidak mudah saat semua negara cenderung melakukan proteksi dan melihat ke dalam,” kata dia.
Dari sisi produksi, Sri Mulyani berharap, Badan Pengelola Investasi (BPI)) Danantara menggunakan leverage ekuitas dan asetnya pada sektor yang penting. Sebab, industri pengolahan memiliki porsi 19% pada PDB. Untuk itu, sisi ini perlu didorong investasi, inovasi, dan produktivitas.
Baca Juga
Sri Mulyani Sebut Kondisi Ekonomi 2024 Menantang dan Tidak Mudah
Sektor industri pengolahan ditargetkan tumbuh 5,3% dan harus dijaga pada tingkat yang cukup tinggi dalam rangka menciptakan kesempatan kerja. Sektor perdagangan besar dan eceran, yang memiliki kontribusi 13,2% pada PDB, juga diasumsikan tumbuh 5,7%.
“Program-program nasional, seperti MBG, subsidi kompensasi, hingga perlinsos, diharapkan semakin menopang kinerja sektor perdagangan besar dan eceran,” jelas dia.
Sementara itu, Sri Mulyani memgatakan, sektor informasi dan komunikasi yang berkontribusi 4,4% dari PDB ditargetkan naik sehingga pertumbuhan ekonomi menembus di atas 6% pada 2006. “Hal ini sesuai perkembangan ekonomi digital, termasuk meningkatkan kegiatan data center,” tutur dia.

