Memoar Presiden Prabowo di Rusia: Diplomasi, Kepemimpinan, dan Pesan untuk Dunia
Oleh Teguh Anantawikrama,
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Transformasi Teknologi & Digital
INVESTORTRUST - Rilis resmi edisi Rusia dari memoar dua jilid On the Art of Military Leadership karya Presiden Prabowo Subianto menjadi penanda momen penting dalam sejarah hubungan Indonesia–Rusia. Bukan sekadar peluncuran buku, ini adalah simbol bagaimana Presiden Prabowo, sebagai kepala negara sekaligus mantan jenderal, menarasikan kepemimpinannya di panggung global—di saat yang sama memperkuat jembatan diplomasi dengan Moskow.
Karya ini tidak hanya membahas prinsip-prinsip kepemimpinan militer, tetapi juga mengungkap pandangan mendalam Presiden Prabowo tentang nilai-nilai nasional, sejarah panjang perjuangan Indonesia, serta arah masa depan bangsa di era geopolitik yang semakin multipolar.
Peluncuran versi Rusia bertepatan dengan kunjungannya ke St Petersburg International Economic Forum sangat istimewa. Ini adalah pesan simbolik: Indonesia hadir sebagai kekuatan menengah yang percaya diri, membawa identitas sendiri dalam percaturan dunia.
Yang tidak kalah penting, hadirnya buku yang bertepatan dengan kunjungan Presiden RI adalah simbol pengakuan posisi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, di tengah perubahan global yang berjalan tanpa henti. Di saat negara-negara besar sibuk merumuskan kembali poros aliansi dan strategi baru, Indonesia tampil sebagai mitra dialog yang setara—dengan narasi, prinsip, dan komitmen menjaga kepentingan nasionalnya.
Kekuatan Soft Power
Banyak yang mungkin bertanya, apa arti rilis buku di tengah agenda kenegaraan? Jawabannya terletak pada kekuatan soft power. Di era globalisasi informasi, narasi menjadi senjata lunak untuk membangun persepsi, menjelaskan motivasi kebijakan, serta mengundang simpati mitra strategis.
Presiden Prabowo tampaknya memahami bahwa reputasi seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh pertemuan tertutup atau kesepakatan resmi. Tetapi, juga oleh bagaimana ia menulis sejarahnya sendiri dan membagikannya lintasbudaya.
Bagi Rusia, penerbitan memoar ini memperkaya ruang dialog kebudayaan antara dua negara yang sudah menjalin hubungan diplomatik sejak 1950. Bagi Indonesia, ini penegasan bahwa kepemimpinan nasional harus dikomunikasikan dalam bahasa yang bisa dipahami dunia internasional—tanpa kehilangan akar kebangsaan. Bagi rakyat Indonesia, ini adalah pengingat bahwa di panggung global, kita tidak hanya dikenal lewat komoditas, tetapi juga lewat gagasan dan prinsip.
Rilis ini harus diikuti dengan konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia yang mandiri, aktif, dan berbasis kepentingan nasional. Sebab, di balik halaman buku, tantangan nyata menanti: stabilitas kawasan, ketahanan ekonomi, dan bagaimana Indonesia menavigasi relasi dengan blok-blok besar tanpa kehilangan arah.
Baca JugaBI Rate Dipertahankan Tepat, Kebijakan Fiskal Harus Countercyclical
Di era di mana diplomasi tak lagi hanya soal negosiasi formal, tetapi juga narasi publik, Indonesia punya modal besar—sejarah panjang kemerdekaan, masyarakat plural, dan pemimpin yang berani mendokumentasikan prinsipnya. Tinggal bagaimana narasi ini dijaga agar tetap relevan, inklusif, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Presiden Prabowo telah menulis tentang seni kepemimpinan militer. Tantangan berikutnya: menulis bab baru tentang seni memimpin Indonesia di panggung dunia yang penuh ketidakpastian—dengan kehormatan, dengan kepercayaan diri, dan dengan kebijakan yang berpihak pada kemakmuran rakyat merata. ***

