Indonesia Dipercaya Jadi Mediator Rusia–UE, Hashim: Presiden Prabowo Akan Sampaikan Pesan ke Putin
Poin Penting
|
PARIS, Investortrust.id — Dalam forum France-Indonesia Business Dialogue yang digelar di Paris, Prancis, CEO Arsari Group yang juga Ketua Dewan Penasehat Kadin Indonesia periode 2024–2029, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan peran strategis Indonesia dalam konstelasi global. Salah satu momen penting yang diungkap Hashim adalah permintaan resmi dari pimpinan Uni Eropa kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk menjadi mediator antara Uni Eropa dan Federasi Rusia di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Menurut Hashim, permintaan itu datang beberapa hari sebelum forum berlangsung dan ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo. “Saya bisa katakan bahwa pemerintah Indonesia telah diminta oleh pimpinan Komisi Eropa untuk menjadi mediator antara Rusia dan Uni Eropa,” ujar Hashim di hadapan para pelaku usaha dari Prancis dan Indonesia, Selasa (15/7/2025). Hashim menambahkan bahwa Presiden Prabowo akan menyampaikan langsung pesan dari Uni Eropa kepada Presiden Vladimir Putin dalam kunjungan yang direncanakan dalam waktu dekat.
Permintaan mediasi tersebut bukan tanpa alasan. Hashim menyebut bahwa kepercayaan dari kedua pihak lah yang menjadi kunci. “Presiden Putin tahu bahwa Indonesia tidak punya agenda tersembunyi. Sejak 1950-an, Indonesia sudah menjadi sahabat yang bisa diandalkan bagi rakyat Rusia. Di saat yang sama, kami juga telah lama bersahabat dengan Uni Eropa,” kata Hashim. Sikap netral dan independen yang dipegang teguh oleh Indonesia menjadi nilai strategis yang sangat dihormati di dunia internasional.
Hashim menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang benar-benar netral dan tidak memiliki musuh eksternal. Prinsip itu pula yang dijaga oleh Presiden Prabowo dalam membentuk arah kebijakan luar negeri Indonesia yang terbuka dan inklusif.
Baca Juga
Prabowo Ingin Tingkatkan Jumlah Anak Muda Indonesia Belajar di Rusia melalui Beasiswa
"Kami tidak punya musuh. Kami adalah negara netral dan kami bangga dengan itu. Pemerintah Indonesia menyambut baik semua pihak, baik untuk kerja sama komersial maupun diplomatik," ujar Hashim.
Fakta di lapangan pun mencerminkan posisi netral Indonesia yang unik dan dihormati. Meski konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung, di Indonesia—khususnya di Pulau Bali—tercatat sekitar 150.000 warga Rusia dan 25.000 warga Ukraina hidup berdampingan secara damai. "Mereka bersosialisasi dengan baik, tidak ada konflik. Ini bukti nyata bagaimana Indonesia menjadi tempat yang aman, tempat netral, tempat di mana keberagaman bisa hidup berdampingan," ujar Hashim.
Situasi tersebut memperkuat citra Indonesia sebagai safe haven atau tempat aman bagi banyak negara dan komunitas internasional, bahkan dalam situasi konflik. Hashim juga menegaskan bahwa sikap terbuka Indonesia terhadap investasi dan kerja sama lintas negara menjadikan Indonesia sebagai mitra yang dapat dipercaya dalam berbagai aspek, baik dalam diplomasi, perdagangan, maupun stabilitas kawasan.
Dengan peran seperti ini, Indonesia bukan hanya menjadi kekuatan ekonomi yang tumbuh di Asia Tenggara, tetapi juga tampil sebagai aktor diplomatik global yang mampu menjembatani berbagai kepentingan negara besar dunia. Hashim meyakini bahwa inilah saat yang tepat bagi negara-negara sahabat, termasuk Prancis, untuk memperkuat kerja sama strategis dengan Indonesia.

