Eks Penasihat Ekonomi Trump Yakin Semua Negara Akan Dapat Tarif Rendah, Asalkan...
JAKARTA, investortrust.id - Eks penasihat ekonomi Donald Trump, Arthur Betz Laffer meyakini semua negara akan mendapat tarif yang rendah asalkan mengikuti permainan negosiasi tarif. Menurutnya, pola kebijakan tarif Trump hampir serupa dengan era pertamanya menjabat.
“Saya berani bertaruh bahwa di akhir masa jabatannya (Trump), kalian akan melihat tarif yang jauh lebih rendah di semua negara, bukan tarif yang lebih tinggi,” kata Laffer, saat CNBC Indonesia Economic Update 2025, di Jakarta, Rabu (18/6/2025).
Laffer mengatakan terdapat pola yang sama antara Trump era pertama dan kedua. Mengenai tarif, Trump telah memberlakukan kebijakan pemangkasan tarif impor untuk beberapa negara yang termuat dalam United States Mexico Canada Agreement (USMCA).
Selain itu, Amerika Serikat (AS) juga memangkas tarif impor untuk Brazil dan Kolombia. Total, pada awal masa kepemimpinannya, Trump membuat lima kerja sama perdagangan dengan tarif impor rendah.
“Kita juga membuat kesepakatan dengan Jepang, yang mana membuat tarif lebih rendah. Hal yang sama juga diberlakukan untuk Korea Selatan,” jelas dia.
Laffer memberi semacam tips untuk pemerintah Indonesia. Menurutnya, Trump adalah sosok negosiator yang mencintai negosiasi. Ini dapat dilihat dari sikap China yang melunakkan proses negosiasi sehingga tarif impor untuk Negeri Tirai Bambu tersebut dapat turun dari 145% menjadi 30%.
Baca Juga
Negosiator Kemendag Sebut Negosiasi Tarif dengan AS Masuki Periode yang Menantang
Dalam suatu kesempatan di 2019, Laffer mengaku sempat berbincang dengan Trump di kediamannya. Trump kemudian berbicara mengenai perusahaan yang dimilikinya.
“Dia (Trump) berkata,’Kamu tahu Arthur? Aku ini free trader,” katanya menirukan pernyataan Trump.
Menurut Laffer, pemberlakuan tarif yang dilakukan Trump karena banyak hambatan terhadap produk asal AS. Tetapi, di sisi lain, banyak negara yang ingin masuk ke pasar AS.
Menirukan Trump, sosok ekonom yang dikenal dengan Laffer Curve tersebut mengatakan kebijakan tarif resiprokal merupakan bentuk ancaman bagi negara-negara mitra dagang AS. “Saya ingin membawa mereka ke meja perundingan untuk bernegosiasi kesepakatan perdagangan bebas dengan kita,” ujar Laffer menirukan pernyataan Trump.

