Ekonom BNI: Indonesia Boleh Tak ‘Ngoyo’ Kejar Investasi Asalkan ICOR Rendah
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesia akan membutuhkan tingkat pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tinggi untuk bisa ikut menopang target pertumbuhan ekonomi di angka 8% pada tahun 2029. Namun tingginya angka investasi yang masuk harus dibarengi dengan rasio ICOR yang rendah, sebagai isyarat bahwa penggunaan modal tadi bisa efisien menghasilkan output yang besar.
Disampaikan Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (BNI) Leo Putera Rinaldy, seberapapun besarnya tingkat investasi yang masuk, Indonesia tetap harus menurunkan tingkat ICOR, incremental capital output ratio.
“Jadi, seberapa efisien kita menggunakan modal investasi kita untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Kalau ICOR -nya semakin rendah, berarti kita semakin efisien menggunakan modal (investasi) kita,” kata Leo dalam kesempatan silaturahmi para pemimpin media massa dengan manajemen PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk di Jakarta, Senin (13/1/2025).
ICOR merupakan parameter ekonomi makro yang menggambarkan rasio investasi kapital/modal terhadap hasil yang diperoleh (output), dengan menggunakan investasi tersebut. ICOR juga bisa diartikan sebagai dampak penambahan kapital terhadap penambahan sejumlah output (keluaran). ICOR mampu menjelaskan perbandingan antara penambahan kapital terhadap output.
Baca Juga
Prabowo Subianto Harap e-Katalog Jadi Ikhtiar Turunkan Skor ICOR
Sekadar informasi, pemerintah dalam hal ini Bappenas membuat trajektori investasi yang dibutuhkan selama lima tahun masa pemerintahan Prabowo Subianto, untuk bisa mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.
Mengacu pada angka yang dilansir Bappenas, untuk bisa mengerek pertumbuhan ekonomi secara maksimal seperti yangd icita-citakan, pada tahun 2025 dibutuhkan angka investasi setidaknya sebesar Rp7.500 triliun. Angka investasi yang dibutuhkan terus meningkat, dan selama lima tahun masa pemeirntahan Prabowo akan dibutuhkan modal masuk sebesar Rp47.587 triliun.
“Sehingga jika dirata-ratakan kebutuhan investasi selama lima tahun pemerintahan Prabowo Subianto hingga tahun 2029 adalah sebesar Rp9.500 triliun per tahunnya, dengan nominal investment targeted to growth-nya itu di angka 11-13%.” tutur Leo.
Sementara jika menggunakan data real dalam konteks deflator, maka real investment untuk menopang GDP membutuhkan pertumbuhan investasi 7-10% dibandingkan pertumbuhan investasi yang dicapai saat ini sebesar 4,2%.
“Maka bisa dipahami pada di periode awal Prabowo menjabat sebagai presiden, Prabowo mengunjungi sejumlah negara besar. Salah satunya adalah untuk menjaring foreign directinvestment yang lebih tinggi,” kata Leo.
Baca Juga
ICOR Tinggi Jadi Penyebab Pertumbuhan Ekonomi RI di Era Jokowi Tak Capai 7%
Namun sejatinya Indonesia bisa saja tak sampai harus mengumpulkan investasi baru hingga puluhan ribu triliun. Syaratnya, kata Leo, adalah menekan tingkat ICOR tadi. Rendahnya ICOR, maka bisa diartikan Indonesia telah mampu menggunakan modal yang didapat dengan efisien. Sehingga tidak dibutuhkan pertumbuhan angka investasi sebesar 7-10%.
“Jadi, sekarang pilihannya ada dua. Kita mempertahankan ICOR tinggi, namun investment growth-nya harus lebih double digit. Atau kita menurunkan ICOR, maka investment growth-nya bisa lebih stabil. Karena kalau ICOR kita masih di atas 5%, di mana itu masih di atas rata-rata Asean yang di 4,9,” kata Leo.
Mengacu pada data Bank Dunia tahun 2023, ICOR Indonesia berada di angka 6,3. Masih lebih rendah dibandingkan China yang sebesar 8%. Namun masih lebih tinggi dibanding sejumlah negara-negara Asean seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam.

