Perang Mata Uang Global Nyata, Dolar AS Bisa Jatuh Kapan Saja
JAKARTA, Investortrust.id – Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, James Riady, mengungkapkan kekhawatiran atas kondisi ekonomi Amerika Serikat yang dinilainya berpotensi rapuh dan berisiko menimbulkan gejolak mata uang global, khususnya akibat menurunnya kepercayaan terhadap dolar AS.
Disampaikan James Riady, potensi tergerusnya kepercayaan dunia terhadap dolar sejatinya dimulai oleh ‘perang’ yang dilakukan Presiden Donald Trump saat masa jabatan pertamanya, dengan menerapkan proteksionisme.
“Sekarang ini Amerika memainkan ‘perang’ mereka itu (dengan cara) yang berbeda dengan dulu. Ini yang sudah dimulai dengan Trump pada first term-nya. Waktu itu ditanya apakah nanti kalau Demokrat yang naik (berkuasa) akan berubah? Konsensusnya adalah tidak. Tidak berubah dan memang nyatanya di bawah pemerintahan Biden meneruskan sikap yang dimulai oleh Donald Trump. Dan sekarang memasuki second term (Presiden Donald Trump) lebih intens lagi,” kata James dalam forum bulanan yang gelar oleh Kadin Indonesia di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Jumat (13/6/2025).
Kebijakan proteksionisme yang diterapkan AS, yang dimulai sejak masa pemerintahan pertama Donald Trump dan diteruskan oleh Presiden Joe Biden, disebut James bisa memicu isolasi ekonomi Amerika dari dunia.
Baca Juga
James Riady Dorong Anggota Kadin Bikin Perumahan Rakyat di Tengah Ancaman Krisis Global
Kebijakan proteksionisme oleh Trump, terutama berupa kenaikan tarif impor, tidak hanya memicu kemarahan negara-negara yang menjadi mitra dagang dan musuh-musuh ekonominya, tapi juga berpotensi mengganggu dominasi dolar AS sebagai nilai tukar utama dunia. “Apa yang terjadi, teman-teman dari Amerika terganggu. Musuh-musuhnya lebih terganggu lagi. Jadi sekarang dengan ini Amerika itu terisolasi," tuturnya.
Lebih jauh, James memaparkan bahwa kebijakan ekonomi AS saat ini bisa menggerus posisi dolar sebagai mata uang reserve currency global. Kekuatan dolar selama ini sangat bergantung pada kepercayaan internasional. Ia mencontohkan sebuah skema perlindungan terhadap negara-negara petrodolar produsen minyak mentah di TImur Tengah, saat mereka diminta menyimpan kekayaannya di AS sebagai imbalan atas perlindungan politik dan militer.
"Tetapi ketika sekarang uangnya sudah masuk di Amerika, Amerika sikapnya seperti itu (menerapkan tarif impor tinggi). Selain itu, Amerika tidak lagi gampang menjual treasury bill-nya. Tidak lagi gampang menjual itu," ujarnya.
Jadi, kata James, ada semacam konsensus oleh para pelaku ekonomi dunia bahwa ada kehawatiran bahwa mata uang Amerika ini akan jatuh secara perlahan akibat krisis kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai sekutu dagang. Ia menjelaskan bahwa bila krisis kepercayaan terhadap dolar AS benar terjadi, maka dampaknya akan luas, termasuk ke Indonesia.
“Kalau dolar AS terganggu, rupiahnya bagaimana? Pasti ikut (terpengaruh) dong. Tapi kalau dia itu anjlok-nya itu parah, dia akan lebih parah daripada rupiah turun,” ujar James.
James juga menyinggung kembalinya tren investasi ke aset riil seperti emas, properti, dan bahkan bitcoin. “Mereka anggap ya itu hard commodities. Dan ini muncul lagi komoditas yang namanya hard komoditas yang baru yaitu bitcoin. Sudah mendekati the new gold,” jelasnya.
Di tengah gejolak tersebut, James juga angkat topi untuk kebijakan yang dirancang oleh pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Ia turut mengajak para anggota Kadin dan pelaku usaha untuk tidak berpangku tangan.
“Sebagai kepala negara (Presiden Prabowo), pikirannya itu harus ke mana-mana memikirkan hal ini semua. Tapi untuk kita, ya do the business,” tutupnya.

