Kadin Sebut Kebijakan Tarif Trump Ubah Tatanan Ekonomi Dunia dan Asumsi APBN 2025
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengakui bahwa kebijakan tarif resiprokal atau tarif timbal balik yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengubah tatanan ekonomi dunia. Kebijakan itu juga mengubah asumsi-asumsi dasar pertumbuhan yang sudah dirancang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia Tahun Anggaran (APBN) 2025, yang diharapkan pada waktu itu mencapai 5,2%.
Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Shinta Kamdani dalam acara Kadin Global and Domestic Economic Outlook 2025 bertajuk “Mengekstraksi Hambatan Perdagangan dan Gejolak Ekonomi Global Untuk Daya Tahan Perekonomian Nasional” di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (12/6/2025).
"Saat ini, seperti diketahui beberapa lembaga dunia seperti IMF dan World Bank bahkan sudah merevisi dari 5,1% menjadi 4,7%," ujar Shinta.
Shinta menjelaskan, diluar efek kebijakan ekonomi Amerika Serikat, iklim ekonomi global juga masih belum kondusif. Menurut Shinta, konflik geopolitik meningkat dengan ditambah juga dengan beberapa kondisi seperti India-Pakistan yang memanas, konflik ekonomi Amerika Serikat-China juga merambah ke sektor lain, seperti dunia pendidikan dan teknologi, serta ketidakpastian terhadap keberlanjutan tatanan ekonomi global.
"Seperti yang kita kenal, beberapa dekade terakhir seluruh pelaku ekonomi melihat adanya potensi penciptaan yang kita sebut new equilibrium, bahkan newest equilibrium dari perkembangan yang ada sejak awal tahun ini. Kita belum akan tahu mana novelty apa yang akan bertahan, dan apa yang baru yang akan muncul," ungkap Shinta.
Lebih lanjut, Shinta menyebut, gelaran Kadin Global and Domestic Economic Outlook 2025 ini sangat relevan bagi semuanya, karena dampak negatif dari spillover ini masih akan terus menghantui potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta kondisi usaha domestik sepanjang tahun 2025 ini.
"Pada saat yang sama kita juga sadar bahwa kondisi domestik kita ini juga terus dibentuk oleh dinamika, tata kelola, dan kebijakan ekonomi nasional yang juga penuh tantangan dan tidak selalu yang sesuai dengan harapan," tutur Shinta.

