Pengembangan Geothermal Dapat Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id – Dosen Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi (FTKE) Universitas Trisakti Bidang Ekonomi Migas, Dwi Atty Mardiana memaparkan, pengembangan proyek panas bumi atau geothermal dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal ini diungkapkannya pada acara Youth Seminar Financial Literacy with PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan Investortrust di Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Kamis (15/5/2025).
“Hipotesis pertama, pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan konsumsi energi. Begitu juga dengan hipotesis kedua, energi memicu pertumbuhan ekonomi,” jelas Atty.
“Jika di suatu negara bisa menyediakan energi secara stabil, kemudian cukup dan terjangkau, maka konsumsi masyarakat akan meningkat, investasi juga akan meningkat. Lalu, dari sisi belanja negara, akan lebih merata, dan dari sisi neraca perdagangan akan stabil. Efeknya apa? Pertumbuhan ekonomi akan naik,” sambungnya.
Dalam paparan Atty, Indonesia dapat menghemat devisa dari impor energi fosil atau minyak sebesar US$ 3,78 miliar per tahun dengan beralih ke bauran energi baru terbarukan (EBT) seperti geothermal. Untuk itu sudah saatnya Indonesia beralih ke bauran EBT geothermal yang memiliki potensi pembangkit listrik hingga 24 gigawatt (GW).
Baca Juga
Dekan FTKE Trisakti: Optimalkan Potensi Geotermal dan Investasi Energi Bersih
“Potensi geothermal Indonesia itu terbanyak nomor 2 sedunia setelah Amerika Serikat, sebesar 24 Gigawatt. Memang kapasitas terpasangnya saat ini masih rendah, baru mencapai 11% atau 2,6 Gigawatt, tapi target di 2030 akan ada peningkatan yaitu meningkat dua kali lipat jadi 5,83 Gigawatt,” papar Atty.
Disamping itu, kata Atty, pengembangan geothermal juga dapat mendorong dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Emisi Indonesia saat ini sekitar 700 juta ton per tahun. Ketika nanti di 2060 kita bisa memanfaatkan potensi (geothermal) tersebut, maka emisi karbon yang bisa kita hilangkan itu sekitar 150 juta ton. Itu adalah setara dengan 20% dari emisi energi yang dihasilkan saat ini,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah memberi instruksi agar penyediaan listrik dalam industri pemurnian mineral (smelter) menggunakan EBT.
Seiring dengan itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi menyebutkan, kebijakan yang diambil pemerintah ini adalah untuk mendorong green mining.
“Saya sudah mendengar, internasional sudah berkata bahwa hasil-hasil pertambangan di Indonesia itu dibilang masih banyak CO2-nya,” ungkap Eniya beberapa waktu lalu.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik di smelter tersebut, Eniya menyebut EBT yang bisa diandalkan adalah panas bumi dan hydro (air). Pasalnya, untuk kelistrikan di sektor pertambangan membutuhkan energi yang stabil dan besar.
“Penggantinya itu kalau paling mudah adalah gas. Kalau di situ ada potensi geothermal, geothermal

