Pertamina NRE Prioritaskan Pengembangan Geothermal untuk Tarik Investasi Danantara
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina New & Renewable Energy (NRE) memprioritaskan pengembangan proyek geothermal atau energi panas bumi untuk mendapatkan pendanaan dari Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
CEO Pertamina NRE John Anis menyebutkan, perseroan memiliki sejumlah faktor yang membuat geothermal diprioritaskan dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Di antaranya, karena Indonesia memiliki potensi geothermal yang besar serta bisa menjadi baseload alias bisa menyediakan pasokan listrik secara stabil.
“Kenapa geothermal? Karena memang geothermal itu sudah jelas, bisa jadi baseload. Dan kita sudah punya tuh, yang 3 GW itu sudah punya tuh. Artinya kita gak usah nyari-nyari lagi,” kata John Anis di The Hermitage, Menteng, Jakarta, Senin (10/3/2025).
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) dan Sinopec Dukung Pengembangan Energi Panas Bumi
Dia tidak memungkiri salah satu persoalan yang dimiliki pembangkit EBT adalah sifatnya yang intermitten atau berjeda. Misalnya, pemanfaatan tenaga surya yang sangat bergantung kepada cuaca dan hanya bisa dimaksimalkan di siang hari.
“Solar panel oke, tapi kan tidak baseload. Dia cuman siang doang. Ya bukan berarti gak (dikembangkan), kita kerjakan juga. Tapi kan beda. Kalau geothermal kan baseload itu artinya 24 jam dia ready,” terang John Anis.
Sementara itu, untuk EBT yang lainnya juga disebut John Anis memiliki tantangannya masing-masing. Untuk hidrogen misalnya, harganya dikatakan masih sangat mahal. Maka dari itu, pengembangan geothermal dianggap sebagai yang terbaik untuk saat ini didorong.
“Hidrogen kan masih ngawang. Ngawangnya kenapa? Karena masalah keekonomian tadi. Harganya masih mahal dan lain sebagainya. Gapnya masih besar, itu problemnya. Jadi belum tersentuh. Kalau banyu itu air itu panjang, perlu 5-7 tahun kan, baru bisa,” beber dia.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Ungkap Perkembangan Target Panas Bumi 1 GW Ini
Sebelum ini, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyebutkan, pemerintah berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 100 GW, di mana sebanyak 75% di antaranya merupakan EBT.
Pengembangan EBT sendiri menjadi salah satu dari 20 proyek strategis yang diprioritaskan pemerintah untuk didorong oleh Danantara. Sementara itu, John Anis memperkirakan bahwa secara keseluruhan, di 2029–2030, Pertamina NRE membutuhkan pendanaan sekitar US$ 6 miliar untuk pengembangan EBT.
“Pendanaan itu bisa dari mana saja. Tapi sekarang ini sih alhamdulillah kita sendiri juga bisa perdanaan. Tapi kalau misalkan it happens to be bigger, perlu dana yang lebih besar, ya pastinya lah kita akan lari ke Danantara,” sebut John Anis.

