KSSK: Yield SBN Sempat Melambung 7,08%, Porsi Asing Turun
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani Indrawati menyebut kebijakan tarif resiprositas tinggi Amerika Serikat sempat membuat imbal hasil obligasi negara terkerek. Kondisi ini terjadi saat perdagangan hari pertama Surat Berharga Negara (SBN) pascalibur panjang Lebaran.
“Pascalibur panjang Idulfitri, pada 8 April 2025, setelah kebijakan tarif impor AS dirilis, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) naik sebesar 5,2 basis poin secara year to date (ytd), mencapai level 7,08%,” kata Sri Mulyani saat menyampaikan hasil rapat berkala KSSK yang digelar daring, Kamis (24/04/2025).
Baca Juga
Selain tarif resiprositas, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, pergerakan imbal hasil tersebut dipengaruhi ekspektasi dari tekanan inflasi yang terjadi di AS.
Net Buy Rp 12,78 Triliun
Meski mengalami kenaikan yield saat perdagangan di awal April 2025, lanjut dia, imbal hasil SBN kembali turun pada 20 April 2025. Penurunan imbal hasil SBN sebesar 4,5 basis poin secara tahun berjalan ke posisi 6,98%.
Dari sisi kepemilikan, sampai 22 April 2025, investor non-resident mencatatkan net buy sebesar Rp 12,78 triliun. “Porsi kepemilikan asing mencapai 14,25% atau menurun dibandingkan 27 Maret 2025 yang sebesar 14,3%” tutur dia.
Sebelum tarif resiprositas diumumkan, Sri Mulyani mengatakan, kinerja SBN tetap terjaga. Pada akhir kuartal I-2025, imbal hasil SUN seri benchmark 10 tahun mencatatkan penurunan 2 basis poin secara tahun berjalan, ke level 7,00%.
"Kepemilikan non-resident dari SBN di masa itu mengalami peningkatan sebesar Rp 15,23 triliun secara tahun berjalan. Porsi kepemilikan asing per 27 Maret 2025 yaitu sebesar 14,3%," ucapnya.
Penerimaan Perpajakan Rp 400,1 Triliun
Sri Mulyani juga menyebut kinerja keuangan pemerintah atau realisasi APBN pada kuartal I-2025 terjaga dengan baik. Indikasi ini terlihat dari defisit anggaran yang terkendali pada batas aman.
“Defisit anggaran sebesar Rp 104,2 triliun. Ini setara 0,43% dari PDB (produk domestik bruto),” kata Sri Mulyani saat menyampaikan hasil rapat berkala KSSK, yang digelar daring, Kamis (24/04/2025).
Sri Mulyani mengatakan keseimbangan primer APBN mengalami surplus sebesar Rp 17,5 triliun. Posisi kas surplus yang terwujud dalam bentuk Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp 145,8 triliun.
Kinerja pendapatan negara dan hibah tercatat mencapai Rp 516 triliun atau 17,2% dari target APBN hingga Maret 2025. Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp 620,3 triliun atau 17,1% dari pagu APBN. Tren belanja pun menguat pada Maret 2025.
Sri Mulyani menjelaskan, penerimaan pepajakan yang sempat kontraksi pada dua bulan awal 2025, telah kembali mencatatkan perbaikan peforma. Hingga akhir Maret 2025, penerimaan perpajakan mencapai Rp 400,1 triliun. Ini artinya 16,1% dari target APBN 2025.
Pembalikan ini ditopang penerimaan pajak yang meningkat signifikan. "Sebab, pada Februari 2025, penerimaan pajak sebesar Rp 98,9 triliun. Khusus penerimaan pajak meningkat signifikan pada Maret 2025, yang mencapai Rp 134,8 triliun,” ujar dia.
Baca Juga
Dengan peningkatan realisasi penerimaan pajak Maret, total realisasi penerimaan pajak pada kuartal I-2025 mencapai Rp 322,6 triliun. Penerimaan realisasi pajak pada Maret 2025, lanjut dia, terdorong program reformasi perpajakan dan perbaikan administrasinya.
"Implementasi Cortex, yang sempat terhambat, juga menjadi bagian peningkatan. Kenaikan tersebut menunjukkan program-program perbaikan penerimaan perpajakan terus bejalan on track,” paparnya.

