Indeks Dolar dan Kurs Rupiah Lanjut Melemah
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis (24/04/2025) pagi lanjut melemah terhadap dolar Amerika Serikat, meski indeks dolar AS melemah. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah dibuka melemah tipis 5 poin ke Rp 16.864 per dolar AS, dari posisi kemarin yang ditutup merosot ke level Rp 16.859 per dolar AS.
"Pasar bereaksi setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan tarif atas barang-barang Tiongkok mungkin tidak akan tetap pada level 145%. Trump juga meyakinkan investor bahwa ia tidak berencana untuk menyingkirkan Ketua The Fed Jerome Powell, yang membantu meredakan kekhawatiran atas otonomi bank sentral," kata Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam keterangan di Jakarta, Kamis (24/04/2025).
Baca Juga
Trump Tak Usul Pemotongan Tarif Sepihak
Di sisi lain di pasar saham AS, lanjut Andry, indeks utama turun dari level tertinggi sesi sebelumnya karena Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengklarifikasi bahwa Trump tidak mengusulkan pemotongan tarif sepihak. Ia juga menegaskan bahwa pembicaraan perdagangan dengan Tiongkok belum dimulai.
"Pasar terus menilai masa depan kebijakan perdagangan AS dan bagaimana hal itu akan memengaruhi pertumbuhan dan permintaan asing untuk surat utang AS," kata Andry.
Baca Juga
Faktor Internal
Dari domestik, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan 5,00% dan suku bunga Lending Facility 6,50% pada April 2025.
Menurut Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo, keputusan BI menahan suku bunga pada kemarin siang kemungkinan ditujukan untuk memberikan stabilitas pada rupiah yang menghadapi tantangan global. Meski keputusan ini dapat memberikan sedikit dukungan, pergerakan rupiah akan terus dipengaruhi oleh sentimen pasar internasional yang lebih luas dan kekuatan dolar AS.
"Investor akan mencari indikator ekonomi domestik yang positif dan berkelanjutan serta lingkungan global yang lebih stabil. Jika ini terjadi, rupiah mengalami penguatan yang signifikan dan berkelanjutan," katanya kepada Investortrust, Rabu (23/4/2025).
Meskipun dolar AS menunjukkan pelemahan terhadap mata uang utama dunia, nilai rupiah Indonesia tetap berpotensi melemah. Menurut Sutopo, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi ekonomi domestik, sentimen pasar global, minat risiko yang berubah-ubah, serta sikap kebijakan moneter relatif dan persepsi pasar
"Kekuatan suatu mata uang selalu bersifat relatif. Kinerja rupiah (IDR) perlu dievaluasi tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang lainnya, mengingat konteks ekonomi dan politik Indonesia yang spesifik," ungkapnya.

