Beda Vietnam, Airlangga Sebut RI Tak Perlu Khawatir Tarif AS
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia tidak terlampau mengkhawatirkan imbas dari kebijakan tarif resiprositas impor dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Meski tidak membantah akan adanya dampak tertentu, dia menyebut kondisi Indonesia berbeda dengan negara lain seperti Vietnam.
Airlangga mencontohkan, kondisi Indonesia dalam menghadapi tarif impor Trump akan berbeda dengan Vietnam, karena misalnya, nilai ekspor Indonesia ke AS hanya berada di 2,2% dari total produk domestik bruto (PDB). Ini berbeda dengan Vietnam yang memiliki nilai ekspor ke AS sebesar 33% dari total PDB negara komunis tersebut.
"Sehingga, kita bisa menahan akibat terhadap perekonomian kita. Jadi, Amerika bukan satu-satunya market yang membuat kita susah, kita bisa antisipasi ini Pak Presiden," kata Airlangga saat memberikan paparan dalam Sarasehan bersama Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Selasa (08/04/2025).
Baca Juga
Tujuan Ekspor Terbesar Cina
Menko Perekonomian melanjutkan, secara berurutan, negara-negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah antara lain Cina dengan nilai sekitar US$ 60,22 miliar tahun 2024. Kemudian Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$ 26,31 miliar dan India US$ 20.32 miliar, berdasarkan data BPS.
"Nah, tentu kita bisa membuka market lain di luar Amerika," sebut dia.
Baca Juga
BI Intervensi, Rupiah Rekor Lagi Terburuk Rp 16.859/US$, IHSG Jatuh Trading Halt
Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu membeberkan tidak menutup kemungkinan bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan ekspansi, mencari pasar tujuan ekspor selain AS. Namun demikian, langkah tersebut adalah rencana jangka panjang. Sedangkan dalam jangka pendek ini, dia menyebut pemerintah telah menyiapkan sejumlah jurus ekonomi.
Dia mengatakan sejumlah upaya jangka pendek pemerintah yang telah dilakukan dalam menopang daya beli masyarakat adalah penyaluran bantuan sosial (bansos) hingga pemberian tunjangan hari raya (THR). Pemerintah, kata Airlangga, juga telah memberikan sejumlah stimulan yang mendorong daya beli masyarakat selama bulan Ramadan 1446 H.
"Kemudian juga terkait dengan stabilisasi harga pangan dan stimulasi ekonomi. Ini (seperti) diskon tarif (listrik) Januari-Februari," ujarnya.

