Bos LPS Beberkan Angka Ideal Inflasi Indonesia, Berapa Sih?
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sekaligus ekonom Purbaya Yudhi Sadewa memandang angka inflasi ideal berdasarkan konsensus adalah berkisar antara 2%-3%. Sementara pada periode Januari dan Februari terjadi deflasi yang dinilai banyak pengamat sebagai representasi penurunan daya beli.
Sebagaimana diketahui, indeks harga konsumen (IHK) pada Januari dan Februari masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,76% dan 0,48% secara bulanan (month to month/mtm).
“Kalau kita lihat dari inflasi, inflasi 0% itu jelek, inflasi di atas 15% juga jelek, inflasi yang bagus di mana? Di antara 2-3%. Inflasi kita kan Januari, Februari negatif dua-duanya. Katanya itu yang disebut oleh ekonom-ekonom, itu menunjukkan daya beli yang menurun dahsyat,” ujar Purbaya dalam wawancara bersama podcast Konvergensi di kantor Investortrust, Jakarta, Rabu, (26/3/2025).
Baca Juga
Bos LPS: Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Terhadap Pemerintah Naik Jadi 107,1
Menurut Purbaya penurunan inflasi tersebut dipengaruhi oleh harga-harga barang yang dikenakan oleh pemerintah, salah satunya yang utama diskon tarif listrik sebesar 50%. Hal ini menyebabkan inflasi tercatat negatif, yang menurut Purbaya sebenarnya inflasi masih berada di angka 2,3% jika tidak ada diskon tarif listrik tersebut.
Purbaya pun mengkritik statistik yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Statistik tersebut menimbulkan persepsi negatif bahwa ekonomi melambat, padahal sebenarnya inflasi masih berada di angka yang wajar.
“Harusnya kan BPS hitung yang asli, (tapi) dia hitung harga diskonnya, jadi itu menarik semua. Hal itu salah, karena tidak menggambarkan keadaan yang sebetulnya. Itu menimbulkan persepsi negatif bahwa ekonomi melambat parah sekali, sehingga inflasinya negatif. Padahal kalau kita buat normal masih 2%-3%,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, deflasi yang terjadi selama dua bulan terakhir bukan disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat, melainkan karena masih berlakunya diskon tarif listrik sebesar 50%.
“Jadi ekonom-ekonom yang bilang kita daya beli kurang, terlihat ada deflasi, menurut saya kurang cerdas,” tandas dia.

