Ini 6 Negara yang Kecipratan Untung dari Kebijakan Tarif AS terhadap China
JAKARTA, investortrust.id – Peneliti utama dan Founder Datawheel César Hidalgo menyampaikan, kebijakan tarif proteksionisme Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap China akan menumbuhkan nilai ekspor enam negara dalam perdagangan global 4 tahun mendatang.
Mulanya, Hidalgo bersama timnya membuat model perhitungan akurat terkait arus perdagangan global. “Kemudian, kami menerapkan model tersebut ke dalam simulasi, kami mensimulasikan Amerika Serikat (AS) memberlakukan kenaikan tarif sebesar 10% terhadap barang-barang dari China,” kata dia dalam seminar "Dampak Perang Tarif terhadap Peluang Ekspor Indonesia" di Menara Kadin, Jakarta, dikutip Kamis (27/3/2025).
Baca Juga
India Berpotensi Tanam Modal di Pelabuhan dan Bandara Indonesia
Lebih lanjut, dia menjelaskan, nilai ekspor Negeri Tirai Bambu akan turun hingga US$ 43 miliar. “Dalam konteks simulasi ini, jika AS memberlakukan kenaikan tarif sebesar 10 poin persentase terhadap China, ekspor China akan berkurang sekitar US$ 42-US$ 43 miliar, dan akan ada negara-negara yang diuntungkan,” tambah Hidalgo.
Hidalgo mencontohkan, nilai ekspor Meksiko dan Kanada ke Amerika Serikat akan meningkat sekitar US$ 3,7 miliar. “Sedangkan Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam juga akan mengalami peningkatan, begitu pula dengan Indonesia yang akan mengalami peningkatan sekitar US$ 1,7 miliar dalam skenario ini. Seperti yang bisa dibayangkan, dampak ini bervariasi di berbagai sektor,” terangnya.
Diberitakan sebelumnya, studi terbaru dari Kadin Indonesia Institute, Yayasan Berbakti Semangat Indonesia (YBSI), dan Datawheel mengungkapkan, kebijakan tarif yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap produk China berpotensi mendorong lonjakan ekspor Indonesia hingga sebesar US$ 1,69 miliar atau Rp 24,08 triliun (asumsi kurs Rp 16.590/USD).
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya N Bakrie menegaskan pentingnya kesiapan Indonesia dalam merespons perubahan global. “Perang tarif AS-China bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang. Kita harus memperkuat industri dalam negeri dan memperluas pasar ekspor dengan strategi yang tepat,” kata Anindya beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan, penerapan tarif impor terhadap tiga negara utama yang menikmati surplus perdagangan atas AS, khususnya China, yakni peningkatan daya saing produk asal Indonesia.
Baca Juga
Pensiun Dini PLTU Cirebon-1 dan Pelabuhan Ratu Cegah Beban Ekonomi Rp 124 Triliun
“Dengan tarif yang lebih tinggi pada barang China, maka harga produk dari China di pasar AS menjadi lebih mahal. Ini membuka peluang bagi produk Indonesia yang serupa untuk lebih kompetitif di pasar AS,” tutur Rosan.
Ia menyatakan, perusahaan-perusahaan AS yang sebelumnya mengandalkan impor dari China akan mencari alternatif dari negara lain, termasuk Indonesia sehingga tercipta peluang ekspor barang Indonesia seperti tekstil, elektronik, furniture, hingga produk pertanian.
Sementara itu di sisi lain, banyaknya perusahaan multinasional yang mengandalkan basis operasinya di China akan mulai mencari lokasi alternatif untuk produksi guna menghindari tarif AS. “Indonesia memiliki peluang untuk dapat menarik investasi ini, terutama di sektor manufaktur dan industri berorientasi ekspor,” imbuh Rosan.

