Meski IHSG Sempat Anjlok, Ketua LPS Sebut Ekonomi Indonesia Justru Alami Perbaikan Signifikan
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ekonomi Indonesia telah mengalami perbaikan yang cukup signifikan sejak awal tahun 2025. Kendati berbagai kalangan menyebut penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 6,12% pekan lalu merupakan pertanda ekonomi Indonesia sedang tidak sedang baik-baik saja.
"Saya investigasi, kondisi ekonomi memang ada pemburukan sampai dengan Desember tahun lalu. Semuanya (indikator) turun ke bawah seperti penjualan mobil, semen dan lain-lain. Bahkan, Purchasing Managers Index (PMI) juga flat-flat saja di bawah 50, artinya ekonominya tidak tumbuh. Tapi, rupanya setelah saya lihat lebih detail data-data terakhir Januari-Februari 2025 ada pembalikan arah yang cukup signifikan," kata Purbaya di podcast Konvergensi yang digelar di kantor Investortrust, Jakarta, Selasa, (26/3/2025).
Menurut Purbaya, membaiknya perekonomian Indonesia juga salah satunya terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan. Mengutip data Bank Indonesia (BI), DPK perbankan pada Januari 2025 tumbuh 5,3% secara tahunan mencapai Rp 8.599,4 triliun. Sementara di Februari 2025 mencapai Rp 8.612,5 triliun atau naik 5,1% secara tahunan.
Baca Juga
LPS Catat Indeks Menabung Konsumen Naik 0,9 Poin Jadi Level 80,2 di Februari 2025. Apa Artinya?
Selain DPK, Purbaya melihat indeks PMI juga menjadi faktor perbaikan ekonomi. Di mana PMI Manufaktur Indonesia S&P Global menunjukkan hasil yang positif yakni meningkat menjadi 53,6 pada Februari 2025, dari 51,9 pada Januari.
"Artinya mereka memprediksi belanja mereka akan besar sekali ke depan, karena mereka lihat demand naik kencang, itu kata pelaku ekonomi," terang dia.
Sementara dari pandangan masyarakat, Purbaya berujar LPS telah melakukan survei kepada masyarakat setiap bulannya. Hasil survei menunjukkan perbaikan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) hingga menjadi di atas 100 pada bulan Februari 2025. IKK Februari 2025 mencapai 107,1, naik sebesar 11,4 poin secara bulanan. Perkembangan ini menunjukkan persepsi konsumen yang optimis terhadap kondisi ekonomi nasional dan di wilayahnya.
Selain faktor penyaluran bantuan sosial (bansos) dan perbaikan infrastruktur umum, perbaikan persepsi konsumen pada bulan lalu ditopang oleh sejumlah hal, seperti peningkatan harga jual produk masyarakat, panen tanaman pangan yang berhasil dengan baik, serta tekanan kenaikan harga sembako dan harga lainnya yang mereda.
Hal ini sejalan dengan dimulainya panen raya tanaman pangan di sejumlah sentra produksi, diskon tarif listrik yang mendorong tingkat inflasi menurun perbaikan infrastruktur umum jelang hari raya, dan ekspektasi kenaikan penjualan produk masyarakat.
"Jadi memang ada pembalikan ekonomi, jadi kenapa market yang kemarin itu? Karena para pelaku investor tahunya data triwulan terakhir tahun lalu sampai Desember. Pembalikan data ini mereka belum sadar, jadi kalau saya lihat data-data itu udah clear sekali ekonomi kita mengalami bottoming out atau rebounding," tuturnya.

