Indonesia Harus Mekar Bukan Melar, Apalagi Blunder
Oleh Ongky Hojanto,
Pakar Public Speaking Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Timnas Indonesia menyerah 5-1 saat bertandang ke Australia untuk memperebutkan tiket ke putaran Piala Dunia edisi ke-23 tahun 2026. Kekalahan telak ini tentu makin memperkecil peluang Indonesia untuk lolos.
Kekalahan tersebut bisa jadi cerminan kondisi bangsa Indonesia saat ini, yang tengah terpukul kemerosotan rupiah, pasar saham, maupun pertumbuhan ekonomi. Karena, terdapat beberapa kesamaan dari segi kebijakan dan kondisi antara era coach baru Patrick Kluivert selaku pimpinan Timnas Indonesia dan Prabowo Subianto selaku presiden RI.
Baca Juga
Pabrik Emas Freeport di Gresik Hasilkan Penerimaan Sekitar Rp 80 Triliun Setahun
Faktor Kekalahan
Penulis menilai, ada beberapa kesamaan faktor yang menjegal kemenangan Indonesia. Berikut di antaranya:
1. Terkesan Beda Ucapan dan Tindakan
Kita tentu ingat ucapan coach Patrick mengenai kriteria pemain yang akan dia pilih dalam starting line up, yakni pemain yang bermain rutin di timnya. Namun, kenyataan di lapangan saat pertandingan berbeda dengan ucapan. Beberapa pemain yang menjadi cadangan di tim, tetap dijadian starter.
Hal yang terkesan sama terjadi dengan Prabowo. Masih menggelegar dalam kuping kita pernyataan Prabowo dalam pidato kemenangannya di Istora Senayan, bahwa “Kami akan menyusun tim pemerintahan yang terdiri dari putra-putri terbaik bangsa Indonesia”. Namun, saat ini, susunan tim pemerintahan terlihat diisi bukan oleh putra-putri terbaik.
2. Bluder Para Menteri
Dalam pertemuan kedua Indonesia-Australia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia itu, ada blunder dari pemain yang melakukan tindakan tidak perlu sehingga menghasilkan penalti untuk tim tuan rumah plus umpan konyol, sebagai penyebab gol kedua.
Perhatikan pula, ada beberapa tindakan para menteri di lapangan lebih luas yang melakukan blunder dalam kebijakan, ucapan, maupun tindakan. Hal ini sangat memengaruhi, bahkan merugikan, citra Presiden di mata publik. Hal ini juga melukai kepercayaan terhadap Indonesia.
Baca JugaIndonesia: The Rising Economic Power You Should Be Investing In
3. Eksekutor Tumpul
Seandainya, tendangan penalty oleh Kevin Diks masuk ke gawang Australia, mungkin hasilnya akan berbeda. Kevin Diks adalah eksekutor handal di klubnya dengan berhasil memasukan 10 dari 11 kali tendangan. Namun, situasi klub tentu berbeda dengan situasi Tim Nasional Indonesia.
Sama halnya dengan tim di pemerintahan Prabowo, tak hanya butuh eksekutor yang telah paham betul kondisi birokrasi serta keruwetan yang ada di dalamnya. Namun, juga yang bertalenta, memiliki kecepatan dan kekuatan, serta terlatih dan berintegritas untuk mengalahkan rintangan dan mencetak gol-gol yang dijanjikan.
Prabowo Harus Sukses
Kita tentu berharap, Timnas Indonesia dapat segera berbenah, sehingga lolos ke World Cup untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia merdeka. Harapan yang lebih besar tentu kita sematkan kepada Prabowo selaku pemimpin tertinggi negara ini, beliau harus sukses lima tahun ke depan, membawa kehidupan bangsa mekar menuju Indonesia Emas 2045. Indonesia yang menjadi negara maju dengan penduduk berpenghasilan tinggi mulai 100 tahun RI merdeka.
Jangan sampai dalam kepemimpinan beliau kalah di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, keamanan, kepastian hukum, hingga stabilitas, dan kita hanya menang di bidang makan bergizi gratis. Karena, kita ingin Indonesia yang benar-benar mekar dan menyempitkan kesenjangan sosial maupun ketertinggalan, bukan Indonesia melar kedodoran. ***

