Pabrik Emas Freeport di Gresik Hasilkan Penerimaan Sekitar Rp 80 Triliun Setahun
JAKARTA, investortrust.id - Pabrik pemurnian emas terbesar di dunia milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur, diproyeksikan memproduksi 50-60 ton emas per tahun, dengan total penerimaan senilai sekitar Rp 80 triliun. Smelter yang diberi nama "Pabrik Emas" tersebut diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 17 Maret 2025.
Pendapatan sebanyak Rp 80 triliun tersebut akan menjadi sumbangsih PT Freeport kepada negara. Menurut Presiden Prabowo, nilai itu merupakan kontribusi yang sangat besar bagi Indonesia dan bahkan hanya dihasilkan dari satu komoditas.
"Penerimaan Rp 80 triliun dari smelter emas ini berasal dari dividen, royalti, bea keluar, kemudian bagi hasil keuntungan bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jadi, betul apa yang dikatakan Pak Prabowo pada saat peresmian smelter bahwa kontribusi Freeport sangat besar bagi negara ini," ucap Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas, Sabtu (22/03/2025).
Baca JugaResmikan Pabrik Pemurnian Logam Mulia Freeport, Prabowo Tegaskan Komitmen Hilirisasi
Pada tahun ini, Tony Wenas mengungkapkan, pihaknya baru menargetkan dapat memproduksi emas sebanyak 1,6 juta ons atau setara 45 ton. Ia mengakui, angka itu menurun jika dibandingkan dengan produksi tahun lalu.
Tony Wenas menjelaskan, produksi emas diproyeksi akan menurun dikarenakan kandungan mineralnya memang sedang lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Optimistis Revenue Bisa Naik
Meski produksi emas diprediksi akan menurun, Tony Wenas optimistis revenue atau pendapatan yang bisa dihasilkan oleh PT Freeport Indonesia akan lebih tinggi. Hal itu dikarenakan pada tahun ini, harga emas mencapai rekor tertinggi yakni US$ 3.000 per ons.
Tahun lalu, lanjut dia, harga emas masih lebih rendah jika dibandingkan dengan yang terjadi saat ini. Harga tertinggi pada 2024 terjadi di Oktober, mencapai US$ 2.720 per ons.
"Namun, dengan harga emas yang saat ini US$ 3.000 (per ons) highest ever recorded, mudah-mudahan revenue-nya juga bisa paling tidak sama seperti tahun lalu," ucap Tony Wenas.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, kondisi harga yang tengah melambung juga terjadi pada komoditas lain yang dihasilkan PT Freeport selain emas, yakni tembaga. Tony menyebutkan, harga tembaga mencapai harga tertinggi US$ 11.000 per ton.
Oleh sebab itu, dengan meningkatnya harga emas dan tembaga dunia, Tony Wenas berharap kontribusi PT Freeport Indonesia terhadap negara pada 2025 tidak lebih rendah dari tahun lalu, dan bahkan dapat lebih tinggi.
"Harga tembaga juga akan jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Hari ini tuh hampir US$ 5 per pound. Misalkan kalau ditonkan itu US$ 11.000 per ton kira-kira. Ini juga salah satu yang tertinggi," tandasnya.
Baca Juga
Prabowo Terima Kasih atas Kontribusi Besar Freeport-McMoran untuk Ekonomi Nasional
Diganti Nama "Pabrik Emas"
Lebih lanjut, ia menceritakan proses hingga akhirnya Presiden Prabowo meresmikan pabrik pemurnian emas PT Freeport di Gresik, Jawa Timur. Sebelumnya, pembangunan pabrik ini telah diresmikan oleh Presiden Ke-7 Joko Widodo (Jokowi) pada September 2024.
Tony Wenas kemudian bertanya langsung kepada Presiden Prabowo kapan pabrik di Gresik bisa diresmikan. Sementara, Presiden Prabowo sempat menyangka kalau smelter tersebut masih dalam perbaikan, karena ada kabar smelter PT Freeport baru saja terbakar.
“Pokoknya memang, itu bergulir cepat. Jadi pada hari Minggu setelah pagi jam 11.00 WIB saya bicara sama Pak Seskab, kemudian kira-kira jam 14.00 WIB Pak Menteri ESDM menelpon saya, mereka siap-siap, Pak Presiden ingin berkunjung. Semula, nama smelter di Gresik tersebut adalah pabrik pemurnian logam mulia. Sudah disiapkan peresmian produksi fasilitas pemurnian logam mulia, namun 15 menit sebelum Pak Prabowo datang diminta untuk diganti. Diganti jadi peresmian 'Pabrik Emas', supaya lebih mudah dicerna orang banyak,” paparnya.

