Memanfaatkan Perputaran Uang Libur Idulfitri Rp 137,98 Triliun
Oleh Sarman Simanjorang,
Direktur Eksekutif Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Perayaan dan libur Idulfitri setiap tahun merupakan momentum perputaran uang terbesar di Indonesia. Ini karena hampir 90% masyarakat Indonesia merayakan Hari Raya Idulfitri dengan tradisi perayaan yang hampir sama, di seluruh pelosok Tanah Air.
Seperti tradisi mudik ke kampung halaman, hal ini berarti belanja baju, tas, sepatu, dan aneka perhiasan untuk dipakai. Selain itu, belanja dan pembuatan aneka makanan, baik untuk dinikmati bersama maupun dikirimkan ke tetangga, berwisata ke tempat hiburan, serta jamuan makan bersama keluarga besar. Untuk perusahaan, budayanya adalah mengirimkan parcel atau hampers untuk relasi atau mitra kerja.
Perputaran uang selama libur Idulfitri 1446 Hijriah tahun ini diprediksi menurun, seiring jumlah pemudik yang menyusut. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi Pusat Statistik Kementerian Perhubungan maupun akademisi, jumlah pemudik hari raya idul Fitri 2025 diperkirakan 146,48 juta orang atau sekitar 52% dari penduduk Indonesia. Pemudik ini mengalami penurunan sebesar 24% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta pemudik.
Jika tahun lalu asumsi perputaran uang selama Idulfitri 2024 mencapai Rp 157,3 triliun, maka asumsi perputaran uang libur Lebaran 2025 diprediksi mencapai Rp 137,98 triliun. Ini berkurang sebanyak 12,28%.
Baca Juga
Prediksi tersebut dihitung dari jumlah pemudik tahun ini 146,48 juta atau setara dengan 36,26 juta keluarga, dengan asumsi per keluarga 4 orang. Jka rata rata keluarga membawa uang sebesar Rp 3,75juta -- naik 10% dari tahun lalu -- maka potensi perputaran uang diprediksi sebesar Rp 137,98 triliun.
Jumlah ini masih berpotensi naik, lantaran angka rata-rata per keluarga diambil angka yang moderat. Jika per keluarga membawa rata rata Rp 4 juta, maka potensi perputaran bisa mencapai Rp 145,04 triliun. Artinya, potensi perputaran di kisaran Rp 137 triliun-145 triliun.
Dekat Libur Nataru
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi penurunan ini. Pertama, jarak libur Nataru dan Tahun Baru (Nataru) dengan Idulfitri sangat berdekatan, sehingga yang sempat berlibur selama Nataru tidak lagi merencanakan liburan atau pulang kampung saat libur Idulfitri.
Kedua, dengan kondisi ekonomi saat ini, masyarakat cenderung menghemat (saving), mengingat dalam beberapa bulan ke depan akan memasuki tahun ajaran baru, yang memerlukan biaya masuk sekolah.
Ketiga, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Keempat, penurunan daya beli masyarakat serta faktor cuaca, yang juga memengaruhi niat masyarakat untuk pulang kampung.
Sementara itu, Bank Indonesia telah mempersiapkan uang layak edar (ULE) sebesar Rp 180,9 triliun, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada periode Ramadan dan Idulfitri 2025. Namun, diprediksi uang layak edar tersebut tidak akan terserap sepenuhnya.
Baca Juga
Mayoritas Berputar di Jawa
Perputaran uang ini akan menyebar sekitar 60% di Pulau Jawa. Ini lantaran Jawa merupakan tujuan utama mudik setiap tahun, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten, dan sekitar Jabodetabek. Sisanya 40% akan menyebar ke wilayah Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua.
Berbagai sektor usaha akan menikmati kue perputaran uang selama liburan Idulfitri 2025. Ini seperti industri aneka makanan dan minuman, fashion termasuk baju muslim, retail modern, hingga pedagang sembako.
Selain itu, sektor pariwisata beserta turunannya akan ikut panen. Ini seperti hotel, motel, vila, restoran, kafe, minimarket, aneka warung/toko, destinasi wisata/taman hiburan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) makanan khas daerah, souvenir, batik, kain khas daerah, dan aneka produk unggulan lainnya.
Juga sektor transportasi darat (bus, rental, kereta api, serta mobil pribadi dan motor), transportasi laut (kapal penumpang dan penyeberangan), dan transportasi udara (pesawat). Selain itu, pengelola tol hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Pemerintah ingin menggenjot konsumsi rumah tangga pada momentum Idulfitri tahun ini dengan berbagai stimulus. Ini antara lain optimalisasi penyaluran bansos, diskon harga tiket pesawat, diskon tarif tol, diskon belanja, diskon paket pariwisata Lebaran, dan stabilitasi harga pangan. Selain itu, pencairan tunjangan hari raya (THR) aparatur sipil negara (ASN) dan pekerja swasta. Ini termasuk dorongan pemerintah kepada operator ojol untuk memberikan bonus Lebaran.
Peningkatan konsumsi rumah tangga selama libur Idulfitri tahun ini diharapkan mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 di kisaran 5% lebih, sebagai fondasi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi kuartal II sampai IV-2025. Dengan demikian, target pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sebesar 5-5,1% diharapkan dapat tercapai.
Perputaran uang di berbagai daerah tujuan mudik ini juga tentu akan menggairahkan dan meningkatkan produktivitas perekonomian lokal, yang akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah dan otomatis berkontribusi terhadap pertumbunan ekonomi nasional. Diharapkan, para pelaku usaha di berbagai daerah dapat memanfaatkan momentum mudik tahunan ini dengan pelayanan yang baik dan berkesan, sehingga para pemudik dapat menghabiskan uang yang dibawa di kampung halaman dengan berbelanja di berbagai tempat wisata. Pemudik bisa memborong produk kuliner makanan daerah serta berbagai produk khas sebagai oleh-oleh kembali ke kota. ***

