Fitch Pertahankan Peringkat Indonesia BBB Outlook Stabil, Mengapa?
JAKARTA, investortrust.id – Lembaga pemeringkat internasional Fitch kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia BBB dengan outlook stabil, pada 11 Maret 2025. Ini satu tingkat di atas level terendah investment grade.
"Keputusan ini mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka menengah yang baik. Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap PDB (produk domestik bruto) rendah," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam keterangan di Jakarta, 11 Maret 2025.
Sementara itu, di tengah tren foreign capital outflow dari emerging market, dana asing terus menderas masuk pasar Surat Berharga Negara (SBN) RI tahun ini. Data terbaru yang dirilis DJPPR Kemenkeu adalah transaksi Senin, dengan non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan mencatatkan pembelian neto Rp 1,08 triliun.
Secara month to date, asing sudah mencatatkan pembelian bersih SBN rupiah yang dapat diperdagangkan Rp 8,92 triliun hingga Senin. Sedangkan secara year to date, asing sudah mencatatkan net buy mencapai Rp 22,43 triliun hingga Senin lalu.
Baca Juga
Permintaan Domestik Kuat
Pada laporannya, Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 terutama akan didukung oleh permintaan domestik yang kuat. Selain itu, dukungan belanja publik untuk bantuan sosial dan proyek infrastruktur.
Investasi swasta juga akan tetap kuat didorong oleh pelonggaran kebijakan moneter yang moderat. Selain itu, berkurangnya ketidakpastian kebijakan pascapemilu tahun 2024, dan aktivitas hilirisasi yang berlanjut.
Menurut Fitch, penguatan pada aspek struktural, pendapatan pemerintah, dan ketahanan eksternal akan memberikan peluang untuk peningkatan Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia ke depan.
Baca JugaAsing dan Orang Kaya Buru SBN dan Net Sell Saham, Dampaknya?
BI Ikut Dorong Ekonomi
Menanggapi keputusan Fitch tersebut Gubernur Perry Warjiyo menyatakan, “Afirmasi rating Indonesia pada peringkat BBB dengan outlook stabil menunjukkan keyakinan dunia internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia yang tetap terjaga. Hal ini didukung oleh kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi."
Bank Indonesia, tegas Perry, terus berkomitmen untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter guna menjaga inflasi tahun 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Hal ini dilakukan dengan tetap mendukung upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk meningkatkan sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas inflasi volatile food.
"Ke depan, Bank Indonesia juga akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global dan domestik, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan keuangan. Ini termasuk mempererat sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, serta terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan program Asta Cita," paparnya.

