Asing dan Orang Kaya Buru SBN dan Net Sell Saham, Dampaknya?
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing masih keluar dari pasar saham Indonesia, dengan mencatatkan net sell sebesar Rp 0,33 triliun pada Selasa (11/03/2025), namun mulai berkurang dibanding pada perdagangan Senin (10/03/2025) sebesar Rp 0,84 triliun. Sedangkan berdasarkan data terbaru Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), pemodal asing lanjut memborong Surat Berharga Negara (SBN) RI dengan mencatatkan net buy mencapai Rp 1,08 triliun pada Senin. Orang kaya Indonesia trennya juga mengoleksi obligasi, lalu apa dampaknya?
Aksi jual itu membuat asing menambah akumulasi penjualan bersih saham di Bursa Efek Indonesia month to date Rp 1,63 triliun. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net sell Rp 23,53 triliun. Ini setara US$ 1,43 miliar,” papar manajemen BEI dalam keterangan di Jakarta, Selasa sore.
Baca Juga
Seiring asing masih mencatatkan net sell saham, indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (10/3/2025), ditututup anjlok 52,36 poin (0,79%) ke 6.545,85. Vilai transaksi saham Rp 9,76 triliun berdasarkan data BEI.
Net Buy SBN Rp 22,43 Triliun
Sedangkan di pasar SBN, data terbaru yang dirilis DJPPR Kemenkeu adalah transaksi Senin, dengan non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan mencatatkan pembelian neto Rp 1,08 triliun. Secara month to date, asing sudah mencatatkan pembelian bersih Rp 8,92 triliun hingga Senin.
Sedangkan secara year to date, asing sudah mencatatkan net buy mencapai Rp 22,43 triliun hingga Senin lalu.
Baca JugaSoal Kasus Minyakita Disunat, Zulhas: Yang Nipu Masukin Penjara
Naik hingga 20%
Head of Consumer Funding & Wealth Business Consumer Funding PT Bank Danamon Indonesia Tbk Ivan Jaya mengungkapkan, tahun lalu, bisnis wealth management bank berkode saham BDMN ini tumbuh di kisaran 15%-20%. Hal itu didorong oleh instrumen investasi obligasi.
Sementara itu, di tengah penurunan signifikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI Selasa, harga saham BDMN terkerek naik tinggi menjelang penutupan perdagangan. Harga saham melonjak 50 poin atau 2.480.
Tahun ini, meski yield SBN trennya sedikit menurun, namun bahkan masih lebih tinggi dari instrumen Bank Indonesia SRBI. Sekuritas Rupiah Bank Indonesia tercatat memberikan imbal hasil tinggi tahun 2024, melebihi obligasi NKRI.
Tahun 2025, Ivan mengatakan, Bank Danamon menargetkan pertumbuhan bisnis wealth management hingga 15%. Optimisme ini didorong oleh prospek positif dari instrumen investasi obligasi (bonds) serta bisnis valuta asing (valas) atau foreign exchange (forex) yang punya daya tarik tinggi, di tengah penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).
Pemegang saham pengendali Bank Danamon adalah konglomerasi keuangan asal Jepang MUFG Bank, Ltd yang berbasis di Tokyo, Jepang. MUFG Bank, baik secara langsung maupun tidak langsung, menggenggam saham sekitar 92,47%.
Melalui Bank Danamon pula, MUFG tercatat melakukan ekspansi bisnis di sektor multifinance lewat Adira Finance, Home Credit, dan terbaru Mandala Finance. Ada pula digital lending platform Akulaku dan Zurich Insurance. Kredit atau pembiayaan sektor konsumsi ini biasanya naik menjelang Lebaran, yang merupakan puncak konsumsi nasional.

