Ekonom Bank Permata: Deflasi Diprediksi Berlanjut, Daya Beli Turun?
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan deflasi masih berlanjut pada September 2024. Sedangkan headline inflation diprediksi dalam kisaran 0,04% secara bulanan dan 1,92% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan Indonesia telah mengalami deflasi keempa tahun ini, terakhir deflasi sebesar 0,03% pada Agustus 2024. “Headline-nya 0,04% month to month dan year-on-year berkisar 1,92%. Sedangkan core inflation diprediksi tetap di atas 2,04%” kata Josua, beberapa waktu lalu.
Peluang berlanjutnya deflasi bulana, terang Josua, dipicu berlanjutnya penurunan harga beberapa komoditas pangan. Namun demikian dirinya tidak menyebutkan deflasi sebagai penurunan daya beli masyarakat.
Baca Juga
“Kita nggak bisa menyimpulkan bahwa deflasi ini merupakan penurunan daya beli, karena inflasi itu ada dua sisi, permintaan dan juga supply-nya,” kata dia.
Josua melihat panen beberapa komoditas pangan yang terjadi secara periodik membuat supply berlebih. Dia mengatakan, usai panen besar padi pada April-Mei, terjadi lanjutan panen besar pada komoditas bawang merah pada Agustus.
“Dan kita perlu ingat bahwa dalam setahun ini ada dua panen raya, panen raya besar di bulan April. Yang kedua, di bulan September,” kata dia.
Selain mencatat deflasi dari sisi harga pangan bergejolak, Josua melihat inflasi inti saat ini masih berada pada posisi yang mendatar. Kondisi serupa juga terjadi pada inflasi terhadap harga yang diatur pemerintah.
Baca Juga
“Harga diatur pemerintah itu masih flat, 0,05%, volatile food-nya deflasi, sementara core (inflation)-nya masih inflasi 0,17%. Jadi, semuanya, deflasi kecil 0,04% (secara bulanan)” kata dia.
Josua tak menampik deflasi yang terjadi karena perubahan pola konsumsi masyarakat. Dia melihat ada perubahan pemenuhan belanja yang tidak hanya melulu pangan atau perubahan dari sisi belanja kebutuhan pokok menjadi belanja sekunder dan tersier.
“Anak milenial jaman sekarang mungkin spending-nya untuk apa? Untuk nonton konser. Itu faktual, nggak bisa kita pungkiri,” kata dia.
Baca Juga
Josua juga melihat, deflasi yang terjadi juga dapat terjadi karena kinerja Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang juga turun. Meski begitu, dia meminta fenomena ini perlu lebih didalami.
“Memang betul ada fenomena penurunan dari beli, ada fenomena makan tabungan, betul. Tapi ada segmen-segmen kelas masyarakat yang lainnya yang masih tetap growing,” kata dia.

