Sanken dan Yamaha Susul Sritex Tutup Pabrik, Menaker Singgung PHK
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli tak menampik badai pemutusan hubungan kerja (PHK) sedang menimpa sejumlah sektor industri di Tanah Air, khususnya manufaktur. Sebut saja PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex hingga PT Sanken Indonesia dan PT Yamaha Music Indonesia yang memutuskan menutup pabriknya.
Menaker Yassierli berharap, opsi PHK menjadi pilihan terakhir yang dilakukan perusahaan. Untuk itu, ia mengimbau agar pengusaha lebih dahulu menempuh kebijakan lainnya, selain PHK. Jika nantinya perusahaan terpaksa PHK, Yassierli menekankan bahwa hal tersebut harus dilakukan sesuai aturan atau undang-undang yang berlaku.
Baca Juga
Kumpulkan Menteri, Prabowo Perintahkan Buruh Sritex yang Terkena PHK Bisa Kembali Bekerja
"Kami dari pemerintah kan tetap berharap PHK itu adalah langkah terakhir. Kami sedang berkomunikasi sebenarnya dengan Yamaha dan Sanken," ucap Menaker Yassierli saat ditemui di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/3/2025).
Kendati demikian, Menaker Yassierli menyebutkan bahwa tidak semua industri tekstil sedang terpuruk. Bahkan, ia mengatakan, industri pakaian jadi saat ini sedang mengalami pertumbuhan. "Ya, tidak semua. Industri tekstil memang agak turun. Namun, kan kalau industri pakaian jadi malah tumbuh. Pakaian jadi. Ini memang dinamika industri kok," terangnya.
Baca Juga
Sritex Pailit, Kurator Buka Opsi Pekerjakan Kembali Karyawan Kena PHK
Seperti diketahui, Sritex resmi tutup dan menghentikan operasionalnya pada 1 Maret 2025. Hal ini dilakukan setelah perusahaan tekstil raksasa ini melakukan PHK terhadap 10.665 karyawan.
Adapun, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) mendata sebanyak 400 orang buruh PT Sanken Indonesia dipastikan terkena PHK pada Juni 2025 karena menutup pabriknya di kawasan industri MM2100 Cibitung.

