Rupiah Ditutup Melemah, Tertekan Pernyataan Bos Fed
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah dalam perdagangan valas, Selasa (18/2/2025) sore. Jisdor Bank Indonesia (BI) merilis mata uang rupiah ditutup melemah 67 poin (0,41%) ke level Rp16.275 per dolar Amerika Serikat.
Sementara berdasarkan perdagangan di pasar spot valas yang dirilis Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak 61 poin (0,38%) ke level Rp 16.270 per dolar AS. Menurut Ekonom Senior PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman, pelemahan nilai tukar rupiah terjadi seiring kembali naiknya indeks dolar AS, akibat cenderung hawkish-nya beberapa pernyataan pejabat The Fed.
"Indeks dolar AS naik ke sekitar 107. Ini membalikkan penurunan selama tiga hari terakhir," ungkapnya kepada Investortrust, Jakarta, Selasa (18/2/2025).
Baca Juga
Peningkatan indeks dolar AS terjadi setelah pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa Bank Sentral AS sebaiknya tidak terburu-buru melanjutkan pemotongan suku bunga acuan (FFR), dan tetap berfokus pada pengendalian inflasi. Gubernur The Fed Christopher Waller menyarankan jeda dalam pemotongan suku bunga berdasarkan data ekonomi terbaru.
"Kecuali jika inflasi di AS menunjukkan pola serupa dengan tahun 2024," tuturnya.
Tunggu Lebih Banyak Bukti
Gubernur The Fed Michelle Bowman juga menyerukan jeda dalam pemotongan FFR. Ia mendesak The Fed untuk menunggu lebih banyak bukti bahwa inflasi di Negeri Paman Sam berada di jalur yang tepat menuju target 2%.
Presiden The Fed Philadelphia Patrick Harker juga mendukung kebijakan mempertahankan suku bunga tetap stabil, di tengah kuatnya perekonomian AS. Para pelaku pasar kini menantikan rilis risalah terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) pada minggu ini, untuk panduan lebih lanjut mengenai prospek suku bunga kebijakan AS ke depan.

