Rupiah Hari Ini Ditutup Tertekan karena The Fed dan Tarif Perdagangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah semakin melemah imbas menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/7/2025) sore hari ini. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah merosot 58 poin (0,35%) ke level Rp 16.399 per dolar AS.
Dilansir Bloomberg, kurs rupiah terdepresiasi hingga 45 poin (0,28%) ke level Rp 16.409 per dolar AS. Hal ini karena indeks dolar AS (DXY) menguat 0,18% ke level 98 poin.
Kerangka kerja perdagangan akhir pekan antara AS dan Uni Eropa menetapkan tarif dasar untuk sebagian besar impor Uni Eropa sebesar 15%, turun dari ancaman sebelumnya 30%.
Baca Juga
Jisdor Catat Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.283 per Dolar AS, Kamis 24 Juli 2025
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, kesepakatan itu awalnya menopang sentimen risiko global, tetapi para analis memperingatkan bahwa kenaikan tarif dari level terendah dalam sejarah dapat membebani pertumbuhan dan inflasi global.
Pasar juga mencermati keputusan kebijakan bank sentral utama. Federal Reserve AS (The Fed) memulai pertemuan 2 hari pada Selasa. Investor memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga minggu ini, tetapi menantikan panduan terbaru mengenai inflasi dan penurunan suku bunga akan menyusul kemudian hari
"Pasar memperkirakan bank sentral akan menawarkan prakiraan ekonomi yang kurang pesimistis menyusul perjanjian perdagangan minggu lalu dengan AS, yang mengindikasikan kenaikan suku bunga dapat dilanjutkan akhir tahun ini," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (29/7/2025).
Sementara itu, para pejabat perdagangan AS dan China bertemu di Stockholm pada Senin (28/7/20250 dalam putaran negosiasi ketiga yang bertujuan memperpanjang jeda 90 hari yang ditetapkan pada Mei terkait eskalasi tarif.
Baca Juga
Hujan Sentimen di AS, Bikin Kurs Rupiah Tertekan dari Dolar Awali Pekan
Meski ada kemajuan perdagangan, sentimen tetap rapuh karena perusahaan dan investor mempertimbangkan tarif dasar lebih tinggi dan ketidakpastian seputar tenggat waktu AS pada 1 Agustus dapat menghambat pertumbuhan dan margin keuntungan.
Selain itu, Presiden AS Donald Trump meningkatkan ketegangan geopolitik dengan mengurangi tenggat waktu bagi Rusia untuk mencapai kemajuan dalam mengakhiri perang di Ukraina menjadi hanya 10 atau 12 hari. Ia memperingatkan sanksi jika Rusia gagal merespons, yang memicu kekhawatiran gangguan minyak Rusia dan pengetatan ekspektasi pasokan.

