Asing Keluar, Rupiah Dibuka Melemah Awal Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah dibuka melemah dalam perdagangan awal pekan, Senin (10/2/2025) pagi. Hal ini seiring dana asing keluar dari pasar saham dan Surat Berharga Negara Jumat lalu, serta dihantui menguatnya indeks dolar Amerika Serikat.
Dilansir Yahoo Finance, mata uang Garuda bergerak melemah 65 poin (0,40%) ke level Rp 16.334 per dolar AS pagi ini. Adapun dalam penutupan perdagangan kemarin, kurs rupiah berada di posisi Rp 16.269 per dolar AS.
"Dari pasar global, sentimen negatif datang setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia merencanakan dan mengumumkan tarif impor timbal balik terhadap mitra dagang, pada minggu ini. Hal itu dapat berarti menaikkan tingkat tarif secara keseluruhan untuk menyamai tarif yang dibebankan ke AS. Sementara itu, rilis data tingkat pengangguran AS bulan Januari dan upah rata-rata per jam bulan Januari yang lebih baik dari konsensus tidak direspon positif oleh pelaku pasar," kata pengamat pasar modal Reza Priyambada di Jakarta, Senin (10/02//2025).
Berdasarkan Bursa Efek Indonesia yang diolah Riset Investortrust, pada hari perdagangan terakhir sebelumnya, asing mencatatkan net sell Rp 0,51 triliun. Sedangkan data terakhir DJPPR adalah transaksi pada 5 Februari 2025, dengan non-resident juga mencatatkan penjualan bersih Rp 3,28 triliun.
Lapangan Kerja Baru AS Turun
Sementara itu, penciptaan lapangan kerja di AS pada Januari lebih rendah dari perkiraan, meski tingkat pengangguran sedikit turun dan upah pekerja naik tajam. Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) AS melaporkan hal itu, Jumat (07/02/2025).
Baca Juga
Daftar penggajian non-pertanian (non-farm payroll) meningkat sebesar 143.000 secara musiman, turun dari revisi naik 307.000 pada Desember dan di bawah perkiraan Dow Jones sebesar 169.000. Sementara itu, tingkat pengangguran turun sedikit menjadi 4%.
Laporan ini juga mencakup revisi acuan yang signifikan terhadap total data 2024, dengan perubahan besar ke bawah pada tingkat payroll sebelumnya, meski terdapat revisi ke atas untuk jumlah pekerja yang melaporkan memiliki pekerjaan.
Baca Juga
Meredam Instrumen Tarif Trumpisme, Jangan Merugikan Perekonomian Indonesia
Revisi tahunan yang dilakukan BLS memangkas jumlah pekerjaan sebesar 589.000 dalam 12 bulan hingga Maret 2024. Penyesuaian awal pada Agustus 2024 sebelumnya menunjukkan 818.000 pekerjaan lebih sedikit.
Sedangkan jumlah pekerja yang melaporkan bekerja, berdasarkan survei rumah tangga, melonjak 2,23 juta, akibat penyesuaian tahunan terhadap populasi dan imigrasi di negara tersebut. Survei rumah tangga ini terpisah dari survei perusahaan, yang digunakan untuk menghitung total pekerjaan.
Pertumbuhan lapangan kerja pada Januari terkonsentrasi di sektor kesehatan (44.000), ritel (34.000), dan pemerintah (32.000). Total kenaikan bulan ini sedikit di bawah rata-rata 166.000 pada 2024, menurut BLS. Bantuan sosial menambah 22.000 pekerjaan, sementara industri terkait pertambangan kehilangan 8.000 pekerjaan.

