Meredam Instrumen Tarif Trumpisme, Jangan Merugikan Perekonomian Indonesia
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan yang dramatis, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengenakan tambahan tarif impor sebesar 10% pada barang-barang asal Tiongkok. Selain itu, presiden yang berlatar belakang pengusaha ini mengancam mengenakan additional tariff sebesar 25% atas impor dari Kanada dan Meksiko, dan berjanji akan melakukan tindakan serupa terhadap Uni Eropa (UE).
Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesepakatan guna menghentikan aliran narkoba dan imigrasi tidak sah ke Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa tarif akan menjadi instrumen keamanan perbatasan. Namun, hambatan perdagangan sebesar ini dapat mengganggu stabilitas pasar global, menaikkan harga bagi konsumen Amerika, dan berpotensi menyeret Amerika – dan dunia – ke dalam resesi.
Dengan potensi dampak buruk terhadap perekonomian sebanding dengan peningkatan keamanan perbatasan, Trump mempertaruhkan pengaruh dan kemakmuran Amerika dalam jangka panjang. Ya, undang-undang federal AS memberi presiden wewenang yang signifikan untuk mengenakan tarif, tanpa menunggu Kongres mengambil tindakan.
Berdasarkan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional Tahun 1977, presiden yang menyatakan keadaan darurat nasional karena ancaman eksternal dapat mengatur perdagangan, meski hal ini secara tradisional berarti sanksi ekonomi, bukan tarif. Selain itu, Pasal 232 Undang-Undang Perluasan Perdagangan Tahun 1962 memberi wewenang kepada eksekutif untuk menyesuaikan impor ketika keamanan nasional terancam. Trump sebelumnya menggunakan wewenang ini pada tahun 2018 untuk mengenakan tarif impor baja dan aluminium dari Kanada, Meksiko, dan UE.
Meskipun demikian, peralihan dari sanksi finansial ke tarif komprehensif menandai perubahan yang signifikan. Sanksi keuangan menawarkan fleksibilitas, ketepatan, dan dampak global yang lebih besar dibandingkan tarif, karena sanksi tersebut dapat dengan cepat diterapkan untuk menyasar individu atau entitas tertentu, sehingga meningkatkan dominasi Amerika dalam sistem keuangan global.
Mereka membebankan biaya pada negara-negara sasaran dengan membatasi akses terhadap sistem perbankan dan pembayaran, yang menjadi andalan transaksi keuangan dan komersial internasional. Sanksi tersebut didukung oleh pemantauan yang ketat, kerja sama global, dan dominasi dolar, sehingga menjadikannya kuat dan sulit untuk dihindari. Selain itu, negara-negara seperti Tiongkok, Kanada, dan Meksiko tidak dapat dengan mudah membalas sanksi keuangan AS, karena mata uang mereka tidak banyak digunakan oleh negara lain.
Merespons Cepat
Sebaliknya, instrumen tarif (pajak atas barang impor) dapat dengan mudah dielakkan, karena ada celah dalam praktik perdagangan dan rumitnya pemantauan barang fisik. Tarif menaikkan harga bagi konsumen dan perusahaan AS yang bergantung pada input perantara.
Di sisi lain, Kanada, Meksiko, dan Tiongkok adalah mitra dagang utama, yang merupakan pasar ekspor terbesar pertama, kedua, dan ketiga bagi AS. Mereka dapat merugikan AS dengan membalas dengan tarif mereka sendiri.
Negara-negara yang menjadi sasaran merespons dengan cepat setelah pengumuman Trump mengenai tarif baru pada akhir pekan lalu. Sebelum Trump mengumumkan 'jeda' tarif Kanada dan Meksiko selama 30 hari, Kanada mengatakan akan mengenakan tarif 25% terhadap barang-barang AS senilai US$ 106 miliar (CAD $ 155 miliar). Hal ini meningkatkan kemungkinan perang dagang, yang dapat mengganggu rantai pasokan Amerika Utara yang sangat terkait.
Hubungan politik menjadi tegang. Kanada berargumen bahwa imigrasi ilegal dan fentanil yang masuk ke AS dari wilayahnya hanya berjumlah sekitar 1% dari total arus masuk, meski Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS melaporkan sekitar 7% imigrasi ilegal berasal dari perbatasan utara. Angka tersebut terus meningkat sejak tahun 2022.
Baca Juga
Berbalik Arah, Asing Beli Neto Rp 1,45 Triliun di Pasar Keuangan
Namun, pendekatan Trump tampaknya berhasil terhadap negara-negara tetangga Amerika. Meski Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum memerintahkan tarif balasan hingga 20% pada impor tertentu dari AS – tidak termasuk industri otomotif –, ia juga setuju untuk mengerahkan 10.000 tentara ke perbatasan Meksiko untuk memerangi fentanil dan perdagangan narkoba lainnya. Hasil ini mencerminkan asimetri hubungan.
Meskipun Amerika Serikat merupakan pasar ekspor terbesar bagi Meksiko, Meksiko hanya merupakan pasar terbesar ketiga bagi ekspor Amerika. Dengan ketergantungan perdagangan yang begitu tinggi, Meksiko menjadi negara pertama yang menuruti tuntutan AS.
Bahkan, dalam beberapa jam, Kanada juga mengikuti jejaknya. Mereka akan mengerahkan personel ke perbatasan untuk melaksanakan rencana perbatasan senilai US$ 1,3 miliar, serta menunjukkan concern terhadap “raja fentanil” untuk mengatasi kekhawatiran AS tentang aliran obat-obatan terlarang. Meski Kanada dan AS merupakan pasar ekspor nomor satu bagi satu sama lain, ekspor Kanada ke AS menyumbang sekitar 20% produk domestik bruto (PDB) Kanada, sedangkan ekspor Amerika ke Kanada hanya menyumbang 1% PDB AS.
Sementara itu, Tiongkok mengecam tambahan tarif 10% atas barang-barang mereka, dan mengumumkan akan menentang kebijakan tersebut di Organisasi Perdagangan Dunia. Menolak tuduhan pemerintahan Trump mengenai fentanil, mereka menggambarkan epidemi opioid (zat yang mengandung opium) sebagai “masalah Amerika.”
Kegigihan Tiongkok
Kegigihan Tiongkok yang terus menyuarakan tekadnya menunjukkan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini mungkin tidak akan menyerah, berlawanan dengan harapan Trump. Dengan pasar internal yang luas dan hubungan perdagangan global yang luas, Tiongkok mempunyai kapasitas untuk menahan tarif AS dan menerapkan tindakan balasan yang kuat. Meski Cina juga lebih bergantung pada pasar AS dibandingkan AS pada pasar Tiongkok, ketergantungan Amerika yang besar pada input perantara dari Tiongkok akan menimbulkan dampak buruk jika perang dagang semakin intensif.
Dalam mengeluarkan ancamannya, Trump bertaruh bahwa Kanada, Meksiko, dan Tiongkok akan tetap terikat pada pasar AS, sehingga memaksimalkan pengaruh negosiasi pemerintahannya terhadap isu-isu nonperdagangan. Namun, menghukum mitra-mitra utama ini bisa menjadi bumerang, karena mendorong mereka memilih pemasok alternatif dan melemahkan pengaruh ekonomi jangka panjang Amerika.
Padahal, strategi keamanan nasional Amerika bergantung pada pemeliharaan hubungan ekonomi yang erat dengan sekutu, dan menciptakan jarak ekonomi dari para pesaingnya. Perang dagang membuat hal ini semakin sulit dicapai.
Yang pasti, konsesi cepat yang dilakukan Meksiko dan Kanada menunjukkan bahwa memanfaatkan ketergantungan ekonomi dapat mencapai tujuan kebijakan, tanpa menimbulkan kerugian signifikan dalam jangka pendek. Trump mungkin akan mencoba taktik yang sama terhadap negara-negara lain yang bergantung pada pasar AS.
Di luar tujuan yang telah ia nyatakan, penerapan tarif terhadap mitra dagang utama memungkinkan Trump untuk mengatakan bahwa ia melindungi industri AS, mendorong produksi dalam negeri, dan berpotensi menciptakan lapangan kerja, serta mengurangi defisit perdagangan – yang merupakan tema yang berulang dalam kampanyenya. Jika eksportir asing menurunkan harga ekspor mereka untuk mengakomodasi permintaan AS yang lebih rendah, AS dapat memperoleh keuntungan nilai tukar perdagangan, dengan mengambil manfaat dari harga impor yang lebih rendah dibandingkan harga ekspor.
Baca Juga
Türkiye-Indonesia, A Strong Historical Foundation for a Promising Future
Merugikan AS dan Dunia
Namun, argumen tarif yang optimal ini mengabaikan risiko besar yang diambil Trump. Perang dagang yang meluas akan membuat semua pihak terpuruk.
|
Eskalasi lebih lanjut dapat mengganggu rantai pasokan global, berdampak negatif terhadap perekonomian AS dan global, serta merusak hubungan politik. Di masa depan, semakin banyak negara mempunyai alasan lebih kuat untuk mencoba mengurangi ketergantungan ekonomi dan politik mereka pada AS. Pada akhirnya, dampak ekonomi dan politik dari kebijakan-kebijakan Trump dapat melemahkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai, sehingga menimbulkan kerugian yang lebih besar dibandingkan manfaatnya bagi AS.
Mencermati dinamika senjata tarif perdagangan yang sedang dimainkan oleh Trump, maka Indonesia harus segera mengambil langkah cepat, akurat, dan terukur, agar tidak menjadi bulan-bulannan kebijakan represif Trumpisme.
Banyuwangi, 7 Februari 2025

