Sutopo Targetkan PII Beri Penjaminan Proyek Rp 69 Triliun 2025
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PII Muhammad Wahid Sutopo menargetkan perusahaan pelat merah ini memberikan penjaminan proyek sekitar Rp 69 triliun tahun 2025, termasuk proyek baru. Terjaminnya pelaksanaan pembangunan proyek infrastruktur dan proyek penting lain akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, menuju sasaran pemerintah 8%.
Special mission vehicles (SPV) di bawah Kementerian Keuangan ini tercatat telah melakukan penjaminan terhadap 53 proyek di Indonesia, dengan total investasi swasta yang berhasil ditarik dalam portofolio proyek PII senilai Rp 539 triliun. Nilai ini sejak Persero berdiri 30 Desember 2009 hingga November 2024.
"Untuk tahun 2025, kami merencanakan bisa memberi penjaminan dengan total nilai investasi proyek Rp 69 triliun, termasuk tambahan proyek baru. Itu ada 3 proyek yang sifatnya KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) skala kecil dan 6 proyek lainnya. Namun, jumlah proyek ini bisa bervariasi tergantung kebutuhan dari pemerintah ke depan seperti apa," kata Direktur Utama PII Muhammad Wahid Sutopo, dalam Podcast Konvergensi Bersama CEO PT Investortrust Sejahtera Indonesia Primus Dorimulu, di Jakarta, Senin (03/02/2025).
Baca Juga
Prabowo Ingin Berikan Proyek Infrastruktur ke Swasta, Ketum Kadin Anindya: Kita Jadi Semangat
Bantu Pemda Olah Sampah
Proyek yang akan dijamin di 2025 terdiri dari berbagai sektor, misalnya pada KPBU berskala kecil untuk proyek penerangan jalan. Contoh yang sudah dilakukan adalah penjaminan pada proyek Penerangan Jalan Utama di Kabupaten Madiun, di mana proyek tersebut mendapat pembiayaan dari perbankan, serta mendapatkan investor karena adanya perjanjian kerja sama dengan pemerintah Kabupaten Madiun serta mendapat penjaminan dari PT PII.
"Lalu ada penyediaan air minum, hingga pengolahan sampah yang sedang dalam proses finalisasi. Sampai saat ini, salah satu yang menjadi masalah besar adalah dari sisi waste itu. Kami sedang membantu beberapa pemda (pemerintah daerah) untuk menyelesaikan fasilitas pengolahan sampah," tutur Sutopo.
Untuk mengajak swasta terlibat dalam pembangunan infrastruktur, lanjut dia, ada dua skema. Pertama skema solicited di mana pemerintah akan mengumumkan bahwa mereka punya rencana proyek dan mempersilakan yang berminat untuk menyampaikan letter of intent (LoI), prakualifikasi, hingga ikut dalam proses pengadaan yang sifatnya terbuka.
Baca Juga
Meski AS Mundur dari Paris Agreement, Menteri Rosan Optimistis Investasi EBT Tetap Jalan
Kedua, skema unsocilicited. Di sini, badan usaha dapat mengajukan suatu proposal kepada pemerintah. Proposal ini akan dievaluasi dan kemudian bila diterima akan masuk proses bidding.
"Sekarang yang masih banyak itu solicited, tapi yang unsolicited juga sudah mulai berkembang. Kalau badan usaha yang melakukan proyek itu umumnya mereka 70% dari pembiayaan pinjaman, dan 30% dari equity," kata Sutopo.
Perluasan Penjaminan Non-infrastruktur
Sutopo yang masuk PT PII tahun 2017 dan menjadi chief executive officer (CEO) tahun 2019 ini juga membeberkan penjalanan 15 tahun perusahaan berdiri. Semula, PII hanya melakukan penjaminan KPBU.
"Sekarang ada bentuk penjaminan lainnya, seperti untuk direct lending, penjaminan BUMN, bahkan pada saat pandemi Covid-19 kami juga ada penugasan untuk penjaminan pada korporasi padat karya. Tahun lalu, juga ada penjaminan untuk non-infrastruktur," sebutnya.
Di luar penjaminan, badan usaha milik negara (BUMN) tersebut juga melaksanakan mandat pendampingan dan penyiapan proyek. Ini semacam advisory untuk mendampingi pemerintah -- baik kementerian maupun pemda -- guna menyiapkan proyek.
"Karena yang jadi persoalan dalam menarik proyek infrastruktur itu, mereka tidak punya cukup dokumentasi, business case untuk dapat mengevaluasi. Nah, ini kemudian kami lakukan pendampingan, ada juga diberikan fasilitas Kemenkeu kepada kementerian dan pemda untuk melakukan hal tersebut," paparnya.
Perusahaan negara ini tercatat sudah banyak mendapat penghargaan dari dalam dan luar negeri. Perusahaan juga terus berupaya memberikan dampak positif yang signifikan kepada masyarakat.
"Kita pernah beberapa kali mendapatkan acknowledgement sebagai PPP Agency di Asia-Pacific, kemudian penghargaan tingkat ASEAN dari sisi pengelolaan risiko. Ada juga beberapa acknowledgement dari dalam negeri. Tentunya, yang paling signifikan adalah bagaimana dampak kepada masyarakat, betul-betul bisa dirasakan oleh masyarakat. Dari sisi badan usaha juga mendapatkan return yang wajar, kemudian dari sisi pemerintah juga tercapai tujuannya," tutur Sutopo.
PT PII kini memiliki 165 pegawai. Mayoritasnya adalah Gen Z.
"Mereka muda-muda dan ada juga yang lulusan dari luar (negeri). Sekarang ini banyak lulusan S3, ada yang PhD," ucapnya.
Resep Kunci Sukses Dirut
Sutopo juga tidak segan membeberkan resep kunci suksesnya sebagai dirut PT PII. Ia mengatakan, yang pertama, dalam kariernya banyak mendapatkan support dari pemegang saham, sejak dulu bekerja di PT Indosat Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan sekarang di lingkup Kemenkeu.
"Itu karena memang allignment dari sisi objektif yang ingin dicapai. Kedua, kita tidak bisa menghindar, kita harus keep on learning, baik formal dan tidak formal memang harus terus dilakukan. Terakhir, ada buku yang menarik dari Adam Grant, judulnya 'Think Again'. Jadi, kadang-kadang kita ini dengan bertambahnya usia dan pengalaman malah merasa yang paling tahu. Namun, perubahan itu sangat ekstrem, sehingga kita harus selalu terbuka untuk merevisi lagi apa yang selama ini kita pelajari lagi dan disesuaikan dengan kondisi yang sekarang," ujarnya.
Ia pun meneruskan pesan dari Menkeu Sri Mulyani Indrawati, yang sering diulang dalam berbagai kesempatan. Ini khususnya kepada generasi muda.
"Jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Karena negara ini adalah sesuatu yang sangat besar potensinya. Seperti yang sering kita bicarakan, bahwa dalam posisi sekarang sebagai middle income country ini merupakan kesempatan yang baik bagi kita untuk menuju ke negara maju, sekaranglah kesempatannya. Dalam kurun waktu 20-30 tahun yang akan datang akan menjadi suatu window untuk 'make it or break it'. Disinilah, Gen Z dan milenial akan berperan sangat penting," tandasnya.

