Indonesia Kuat, Menggandeng India dan Membangun Rantai Pasok Melayu
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia perlu segera bekerja sama erat dengan India dan membangun rantai pasok Melayu, sehingga menjadi kekuatan besar tersendiri di tengah pergeseran pola perdagangan dunia. Pasar besar Amerika Serikat terus mengurangi impor dari Cina dan diperkirakan pemerintahan baru Presiden AS Donald Trump makin protektif.
“Tapi, kita akan mempunyai kekuatan tersendiri, jika bisa membangun ‘Melayu’ supply chain dan bekerja sama erat dengan India. İni closed loop antara kita. Dengan membuktikan kita bisa membangun pasar bersama regional yang kuat, maka negara-negara Barat 'terpaksa' membuka jalan untuk Indonesia,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Teguh Anantawikrama kepada Investortrust.id, Jakarta, Rabu (29/01/2025).
| Perdagangan Indonesia dengan 20 negara mitra yang mencatatkan surplus neraca perdagangan. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
Inilah Kebijakan Moneter Paling Ampuh Melipatgandakan Permintaan Domestik
Teguh mengatakan, ekspor unggulan Indonesia seperti produk sawit dikerjain terus oleh AS maupun Uni Eropa. Tidak hanya itu, produk unggulan kita yang lain juga mengalami nasib sama, seperti furniture dan clothing line yang banyak menyerap tenaga kerja.
“Malaysia pun sudah mau membangun pasar serumpun," ujar Teguh.
Kedua negara serumpun di ASEAN ini antara lain mempunyai industri minyak sawit terbesar di dunia. Minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling kompetitif di muka Bumi, karena produktivitasnya sangat tinggi dan bahkan bisa empat kali minyak nabati di Barat.
Sementara itu, India yang teknologi digitalnya maju merupakan negara dengan populasi terbanyak di dunia. Meski pertumbuhan ekonomi dipoyeksikan juga menurun lantaran ketidakpastian global, India diperkirakan masih bisa mencapai pertumbuhan 6,4% untuk tahun fiskal 2024-2025, jauh di atas Cina. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan 5,1% tahun ini.
Menjauhi Cina, Merangkul ASEAN
Sementara itu, berdasarkan data McKinsey, Amerika Serikat tercatat terus melakukan diversifikasi untuk mengurangai ketergantungan pasokan dari Tiongkok. Negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia ini berdagang semakin banyak dengan ASEAN dan Meksiko.
"Amerika Serikat terus melakukan reorientasi perdagangan menjauh dari Tiongkok. AS mengurangi porsi perdagangan barang manufaktur dengan Tiongkok sebesar 6 percentage points, antara tahun 2017-2024. Pada periode yang sama, Amerika meningkatkan pangsa impornya dari Meksiko dan ASEAN, masing-masing sekitar 2 percentage points dan 4 percentage points," papar McKinsey.
Baca Juga
Dari Pendukung ke Pemimpin: Perempuan dalam Industri Pariwisata Indonesia
Akibatnya, Meksiko menjadi pemasok barang terbesar AS pada tahun 2023. Posisi ini sebelumnya lama dipegang Tiongkok, yakni sejak tahun 2007.
Ekspor Indonesia ke Cina Melonjak
Di sisi lain, Tiongkok terus memperluas jangkauan perdagangan dengan negara-negara berkembang, khususnya ASEAN, Amerika Latin, dan Rusia. Dalam dua tahun terakhir, kontribusi negara-negara berkembang telah melampaui negara-negara maju, menyumbang mayoritas impor dan ekspor RRT.
Bersamaan itu, Tiongkok mengurangi porsinya dalam total perdagangan dengan lebih banyak mitra yang secara geopolitik 'jauh', termasuk Eropa 30, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Porsinya turun hampir 10 percentage point periode tahun 2017-2024.
Sebagian besar peralihan perdagangan Tiongkok ke arah negara ekonomi berkembang ini terutama berkat meningkatnya transaksi dengan ASEAN. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara tersebut pada tahun 2024 telah menyalip Eropa 30, menjadi mitra dagang terbesar Negeri Tirai Bambu itu.
Banyak sektor mencatat pergeseran besar-besaran dalam peta perdagangan Cina, yang merupakan negara dengan penduduk dan PDB terbanyak kedua di dunia. Ini misalnya sektor elektronik, mesin, dan tekstil, dengan peran Tiongkok berkembang sebagai pemasok hulu untuk input antara ke industri di ASEAN.
"ASEAN, pada gilirannya, menghasilkan barang jadi untuk pasar global dan semakin meningkat ekspor ke Amerika Serikat. Antara tahun 2017-2024, pangsa ekspor elektronik ASEAN yang menuju Amerika Serikat menjadi dua kali lipat, meningkat dari 10% ke hampir 20%. Satu pengecualian penting terhadap pola ini adalah Indonesia, di mana perdagangan dengan Tiongkok tumbuh luar biasa sebesar 12% rata-rata setiap tahun antara tahun 2017-2024, didukung oleh ekspor logam dan mineral, khususnya nikel," papar McKinsey.

