Rupiah Menguat, Dana Asing Masuk Saham, Keluar SBN
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing masuk ke pasar saham pada Kamis (23/1/2025) dengan mencatatkan transaksi net buy Rp 0,02 triliun, seiring rupiah menguat terhadap dolar AS sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan sore hari. Sementara, di Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, data terbaru DJPPR mencatat non-resident masih membukukan net sell Rp 0,23 triliun pada Rabu (22/1/2025).
Namun, secara month to date, asing masih mengakumulasi penjualan bersih saham di Bursa Efek Indonesia senilai Rp 3,04 triliun. “Secara year to date, asing mencatatkan net sell Rp 3,04 triliun atau US$ 186,60 juta,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta, Kamis (23/1/2025) malam.
Baca Juga
Bunga Surat Utang Indonesia Tertinggi di Kawasan, 2 Kali Filipina
Sedangkan di pasar SBN, data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi Rabu, dengan non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan mencatatkan penjualan neto Rp 0,23 triliun. Secara month to date, asing sudah mencatatkan penjualan bersih Rp 9,83 triliun hingga kemarin.
| Perkembangan transaksi neto oleh asing di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan, hingga 22 Januari 2025. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Rupiah Menguat Lagi
Sementara itu, kurs rupiah kembali melanjutkan tren positif dengan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (23/1/2025). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, mata uang Garuda menguat 51 poin (0,31%) ke level Rp 16.276 per dolar AS. Kemarin, rupiah juga ditutup menguat pada posisi Rp 16.327 per dolar AS.
Pada perdagangan Kamis (23/1/2025) hari ini, Yahoo Finance juga mencatat rupiah menguat tipis 4 poin (0,02%) ke level Rp 16.275 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah menguat ke posisi Rp 16.279 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah indeks dolar yang mulai longsor dari titik tertinggi tahun ini yang menembus di atas 109. Pada pukul 13.37 WIB, berdasarkan data Yahoo Finance, DXY ini berada di level 108,24.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, setelah pelantikannya pada hari Senin waktu AS, Trump mengisyaratkan rencana untuk mengenakan tarif 10% atas impor Cina mulai 1 Februari dan memperingatkan potensi pungutan pada Uni Eropa. "Selain itu, Trump akan menambahkan tarif baru pada ancaman sanksi terhadap Rusia, jika negara itu tidak membuat kesepakatan untuk mengakhiri perangnya di Ukraina. Trump menambahkan ini dapat diterapkan juga ke 'negara-negara peserta lainnya'," kata Ibrahim dalam keterangan di Jakarta, Kamis (23/1/2025).
Baca Juga
Selain akan mengenakan tarif kepada Uni Eropa dan sedang membahas bea masuk sebesar 10% terhadap Tiongkok karena fentanil dikirim ke AS dari sana, Trump akan mengenakan tarif 25% terhadap Kanada dan Meksiko. Ia juga mengatakan sebelumnya bahwa pemerintahannya mengumumkan keadaan darurat energi nasional.
Hal itu dimaksudkan untuk memberinya kewenangan untuk mengurangi pembatasan lingkungan pada infrastruktur dan proyek energi, serta mempermudah perizinan untuk infrastruktur transmisi dan jaringan pipa baru. Meski demikian, beberapa analis tetap skeptis terhadap laju peningkatan produksi minyak dalam waktu dekat.

