BI Turunkan Bunga, Simak Prediksi Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Membuka perdagangan Kamis (16/1/2025) pagi ini, nilai tukar rupiah masih lanjut bergerak melemah di pasar spot valas, akibat tekanan indeks dolar Amerika Serikat (AS). Dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak melemah 20 poin (0,12%) ke level Rp 16.334 per dolar AS, setelah dalam penutupan perdagangan terakhir berada di posisi Rp 16.314 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, ancaman adanya risiko global saat ini meningkat. "Itu terutama dari kemungkinan terjadinya trade war 2.0 Presiden Terpilih AS Donald Trump dan high-for-longer rate suku bunga The Fed, yang akan menyebabkan naiknya risk-off sentiment. Dari dalam negeri, faktor melebarnya current account deficit (defisit transaksi berjalan) juga memicu capital outflow, yang juga berujung pada pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini akan memicu terjadinya imported inflation di Indonesia," katanya dalam keterangan di Jakarta, dikutip Kamis (16/1/2025).
Baca Juga
Asing Kompak Masuk SBN-Saham, BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Bisa 5,5%
2 Sentimen Internal
Ia mengatakan, sebelumnya, perekonomian domestik diapit oleh dua sentimen internal, yakni keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) serta pengumuman neraca perdagangan Indonesia bulan Desember 2024. Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%, dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,50%.
Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 2,24 miliar pada Desember 2024. Surplus ini sudah berlangsung 56 bulan beruntun.
Baca Juga
Beruntun 56 Kali, Neraca Perdagangan Surplus US$ 2,24 Miliar Desember
Adapun realisasi tersebut melanjutkan tren surplus neraca dagang Indonesia dalam 56 bulan terakhir. Tren surplus tersebut sudah bertahanan sejak Mei 2020. Kendati demikian, realisasi tersebut turun US$2,1 miliar dibandingkan bulan lalu.
Nilai Tukar Rupiah Terkendali
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, nilai tukar rupiah tetap terkendali di tengah ketidakpastian global yang tinggi, didukung oleh kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Januari 2025 (hingga 14 Januari 2025) hanya melemah sebesar 1,00% (point to point/ptp) dari level nilai tukar akhir 2024.
"Perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India, peso Filipina, dan baht Thailand, yang masing-masing melemah sebesar 1,20%; 1,33%; dan 1,92%. Bahkan, nilai tukar rupiah tercatat menguat terhadap mata uang kelompok negara maju di luar dolar AS, dan stabil terhadap mata uang kelompok negara berkembang," ujarnya.
Perkembangan tersebut sejalan dengan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta didukung oleh aliran masuk modal asing yang masih berlanjut. Selain itu, imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik.
"Ke depan, nilai tukar rupiah diprakirakan stabil, didukung komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik. Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Ini untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," tegas Perry.
Inflasi Sesuai Sasaran
Terjaganya stabilitas nilai tukar juga didukung Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2024 berada dalam kisaran sasarannya 2,5±1%, sejalan inflasi IHK Desember 2024 yang tercatat 1,57% (yoy). Perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang terkendali pada level 2,26% year on year, sejalan dengan konsistensi suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI Rate) untuk mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya.
Sementara itu, kelompok volatile food (VF) mencatat inflasi 0,12% (yoy). Terjaganya inflasi ini didukung oleh peningkatan pasokan pangan seiring berlanjutnya musim panen, serta eratnya sinergi pengendalian inflasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Secara spasial, inflasi IHK di berbagai daerah juga terkendali dalam kisaran sasaran inflasi nasional. "Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi IHK tetap terkendali dalam sasarannya. Inflasi inti diprakirakan terjaga seiring ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas perekonomian yang masih besar dan dapat merespons permintaan domestik, imported inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah BI, serta dampak positif berkembangnya digitalisasi. Inflasi VF diprakirakan terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi BI dan pemerintah pusat dan daerah," ucap Perry.
Bank Indonesia, lanjut Perry, terus berkomitmen memperkuat efektivitas kebijakan moneter guna menjaga inflasi tahun 2025 dan 2026 terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Hal ini juga bertujuan tetap mendukung upaya turut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Perry menegaskan, instrumen moneter pro-market dioptimalkan untuk memperkuat upaya stabilitas nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi. Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk mempercepat upaya pendalaman pasar uang dan pasar valas serta mendorong aliran masuk modal asing ke dalam negeri.
"Hingga 14 Januari 2025, posisi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI masing-masing tercatat sebesar Rp 914,72 triliun, US$ 1,96 miliar, dan US$ 436 juta. Penerbitan SRBI telah mendukung upaya peningkatan aliran masuk portofolio asing ke dalam negeri dan penguatan nilai tukar rupiah. Kepemilikan nonresiden dalam SRBI mencapai Rp 228,85 triliun (25,02% dari total outstanding). Implementasi dealer utama (primary dealer) sejak Mei 2024 juga makin meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar, sehingga memperkuat efektivitas instrumen moneter dalam stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi," ucapnya.
Baca Juga
Ke depan, lanjut Perry, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai inovasi instrumen pro-market. Ini baik dari sisi volume maupun sisi daya tarik imbal hasil, guna meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta mendorong aliran masuk modal asing.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam analisisnya Kamis (16/1/2025) memprediksi rentang perdagangan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini adalah Rp 16.169.9 – 16.399,0.

