Asing Kompak Masuk SBN-Saham, BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Bisa 5,5%
JAKARTA, investortrust.id - Aliran dana asing mulai kompak masuk pasar keuangan dalam negeri lewat Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham. Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi RI masih bisa mencapai hingga 5,5% tahun ini, meski di bawah proyeksi sebelumnya, namun di atas prediksi terbaru International Monetary Fund 5,1%.
BI kemarin menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, di luar ekspektasi ekonom yang sebelumnya memperkirakan Bank Sentral menahan suku bunga acuan. BI juga berkomitmen meningkatkan stimulus Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Penyaluran stimulus Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sudah mencapai Rp 295 triliun hingga minggu kedua Januari 2025, meningkat Rp 36 triliun dari Rp 259 triliun pada akhir Oktober 2024.
Berdasarkan data harian terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), non-resident di pasar Surat Berharga Negara (SBN) rupiah yang dapat diperdagangkan mencatatkan pembelian neto Rp 0,17 triliun pada 14 Januari 2025, berbalik arah dibanding hari sebelumnya yang mencatatkan net sell Rp 2,49 triliun. Hari berikutnya, asing juga mencatatkan net buy saham di bursa domestik Rp 0,59 triliun pada 15 Januari 2025, berbalik arah dibanding hari sebelumnya net sell Rp 0,38 triliun.
"Surplus neraca transaksi modal dan finansial didukung oleh aliran masuk modal asing, sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik yang lebih baik dan imbal hasil investasi yang menarik. Ke depan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2025 diprakirakan tetap sehat, seiring dengan surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut dan defisit transaksi berjalan yang terjaga dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB (produk domestik bruto)," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, 15 Januari 2025.
| Perkembangan BI Rate, inflasi Indonesia, dan Fed Funds Rate. Bank Indonesia menurunkan BI Rate 25 bps ke 5,75% pada 15 Januari 2025. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
NPI Sehat
Perry menjelaskan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat sehingga mendukung ketahanan eksternal. "Surplus neraca perdagangan berlanjut pada Desember 2024 yang tercatat US$ 2,2 miliar, dipengaruhi oleh kinerja ekspor komoditas utama Indonesia yang kuat, seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja," paparnya.
Perkembangan ini mendukung transaksi berjalan 2024 tetap sehat dan diprakirakan dalam kisaran defisit rendah 0,1% sampai 0,9% dari PDB. Sementara itu, hingga 13 Januari 2025, tingginya ketidakpastian pasar keuangan global menurunkan aliran masuk modal asing ke instrumen keuangan domestik, dengan SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masing-masing hanya mencatat inflows US$ 19 juta dan US$ 288 juta pada awal tahun 2025.
Baca Juga
"Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2024 tercatat tinggi sebesar US$ 155,7 miliar. Ini setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," tuturnya.
Proyeksi Pertumbuhan Global Naik
Perry menjelaskan, di tengah divergensi pertumbuhan ekonomi dunia melebar dan ketidakpastian pasar keuangan global berlanjut, perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh lebih kuat dari prakiraan, didukung stimulus fiskal yang meningkatkan permintaan domestik dan kenaikan investasi di bidang teknologi yang mendorong peningkatan produktivitas. Sebaliknya, ekonomi Eropa, Tiongkok, dan Jepang masih lemah, dipengaruhi oleh menurunnya keyakinan konsumen dan tertahannya produktivitas, sementara ekonomi India masih tertahan akibat sektor manufaktur yang terbatas.
"Sejalan dengan itu, prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diprakirakan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya menjadi 3,2%. Di sisi lain, arah kebijakan pemerintah dan Bank Sentral AS berpengaruh pada ketidakpastian pasar keuangan global. Kuatnya ekonomi AS serta dampak kebijakan tarif menahan proses disinflasi di AS dan berdampak pada menguatnya ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih terbatas," ujarnya.
Kebijakan fiskal AS yang lebih ekspansif mendorong yield US Treasury tetap tinggi, baik pada tenor jangka pendek maupun jangka panjang. Bersamaan dengan ketegangan geopolitik yang meningkat, perkembangan tersebut menyebabkan makin besarnya preferensi investor global untuk memindahkan portofolionya ke AS. Indeks mata uang dolar AS naik tinggi, makin menambah tekanan pelemahan berbagai mata uang dunia.
Berbagai perkembangan global ini memerlukan penguatan respons kebijakan dalam memitigasi dampak rambatan global, untuk tetap menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh baik, meski dengan kecenderungan lebih rendah dari prakiraan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2024 sedikit di bawah prakiraan, dipengaruhi oleh lebih rendahnya permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan sedikit di bawah titik tengah kisaran 4,7–5,5%.
"Pada 2025, pertumbuhan ekonomi diperkirakan juga cenderung lebih rendah dari prakiraan sebelumnya. Ekspor diprakirakan lebih rendah sehubungan dengan melambatnya permintaan negara-negara mitra dagang utama, kecuali AS. Konsumsi rumah tangga juga masih lemah, khususnya golongan menengah ke bawah sehubungan dengan belum kuatnya ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Pada saat yang sama, dorongan investasi swasta juga belum kuat karena masih lebih besarnya kapasitas produksi dalam memenuhi permintaan, baik domestik maupun ekspor. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 mencapai kisaran 4,7–5,5%, sedikit lebih rendah dari kisaran prakiraan sebelumnya 4,8–5,6%," paparnya.
Dalam kaitan ini, lanjut Perry, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk tetap menjaga stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi stimulus kebijakan makroprudensial serta akselerasi digitalisasi transaksi pembayaran yang ditempuh Bank Indonesia dengan kebijakan stimulus fiskal Pemerintah.
"Lebih dari itu, Bank Indonesia mendukung penuh implementasi program-program pemerintah dalam Asta Cita. Ini termasuk untuk ketahanan pangan, pembiayaan ekonomi, serta akselerasi ekonomi dan keuangan digital," ucapnya.
Pembayaran Digital Diproyeksikan Melambyng 52,3%
Gubernur BI menuturkan, kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada tahun 2024 tetap tumbuh. Hal ini didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal.
Pembayaran digital -- terdiri atas transaksi melalui aplikasi mobile dan internet -- mencapai 34,5 miliar transaksi atau tumbuh 36,1% (year on year), dengan didukung oleh seluruh komponennya. Volume transaksi pada aplikasi mobile tumbuh sebesar 39,1% (yoy), demikian pula volume transaksi pada internet tumbuh 4,4% (yoy) pada tahun 2024. Di samping itu, volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS tetap tumbuh pesat sebesar 175,2% (yoy), didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
"Pembayaran digital diproyeksikan meningkat 52,3% (yoy) pada tahun 2025. Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 3,4 miliar transaksi atau tumbuh 62,4% (yoy), dengan nilai Rp 8,9 triliun pada tahun 2024. Volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS mencapai 10,3 juta transaksi atau tumbuh 3,1% (yoy) dengan nilai Rp 126,3 ribu triliun, meningkat 17,6% (yoy) pada tahun 2024. Pada tahun 2025, volume transaksi BI-FAST diprakirakan tumbuh 34,1% (yoy) dan nilai transaksi BI-RTGS diprakirakan tumbuh 11,4% (yoy)," ujar Perry.
Sementara itu, dari sisi pengelolaan uang rupiah, uang kartal yang diedarkan (UYD) tumbuh 9,3% (yoy) menjadi Rp 1.204,5 triliun pada akhir Desember 2024. UYD diprakirakan tumbuh 5,7% (yoy) pada tahun 2025.
Kredit Menguat
BI mencatat, peran kredit/pembiayaan pada 2024 tetap kuat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan kredit pada 2024 mencapai 10,39% (yoy), berada dalam kisaran prakiraan Bank Indonesia 10–12%. Dari sisi penawaran, pertumbuhan kredit dipengaruhi oleh terjaganya minat penyaluran kredit perbankan, berlanjutnya realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan, tersedianya dukungan pendanaan dari pertumbuhan DPK, serta positifnya dampak KLM Bank Indonesia.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit didukung oleh kinerja usaha korporasi yang terjaga, di tengah konsumsi rumah tangga yang terbatas. Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi, masing-masing sebesar 8,35% (yoy), 13,62% (yoy), dan 10,61% (yoy). Pembiayaan syariah tumbuh sebesar 9,87% (yoy), sementara kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tumbuh 3,37% (yoy).
"Ke depan, pertumbuhan kredit diprakirakan meningkat dalam kisaran sasaran 11–13% pada 2025, sejalan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap baik dan dukungan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia. Berbagai kebijakan insentif dari pemerintah diprakirakan juga dapat mendorong permintaan kredit lebih lanjut," ucapnya.
Bank Indonesia akan terus memperkuat efektivitas implementasi KLM. Pada 2025, KLM diarahkan untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan guna mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Mulai 1 Januari 2025, insentif KLM telah disalurkan pada sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, antara lain sektor pertanian, perdagangan dan manufaktur, transportasi, pergudangan dan pariwisata dan ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, dan perumahan rakyat, serta UMKM, Ultra Mikro, dan 'hijau'.
"Hingga minggu kedua Januari 2025, Bank Indonesia telah menyalurkan insentif KLM sebesar Rp 295 triliun. Insentif telah disalurkan kepada kelompok bank BUMN (badan usaha milik negara) sebesar Rp 129,1 triliun, bank BUSN (badan usaha swasta nasional) Rp 130,6 triliun, BPD (bank pembangunan daerah) Rp 29,9 triliun, dan KCBA (kantor cabang bank asing) sebesar Rp 5 triliun. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mendorong penyaluran kredit/pembiayaan perbankan dan memperkuat sinergi dengan pemerintah, otoritas keuangan, kementerian/lembaga, perbankan, dan pelaku usaha," tandasnya.
Ketahanan sistem keuangan juga terjaga baik. Likuiditas perbankan tetap memadai, tecermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Desember 2024 yang tinggi sebesar 25,59%. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada November 2024 tercatat tinggi sebesar 26,89%, tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit.
"Risiko kredit tetap terkendali, tecermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan pada November 2024 yang terjaga rendah, sebesar 2,19% (bruto) dan 0,75% (neto). Hasil stress-test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, serta ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga. Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan," ungkapnya.

