Investasi Diharapkan Naik 10% demi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%
JAKARTA, investortrust.id - Asisten Deputi Pengembangan Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) Theodore Sutarto menyebut dibutuhkan pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi sebesar 10% agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 8% seperti yang dicita-citakan Pemerintahan Prabowo- Gibran.
“Kita akan menggenjot (pertumbuhan ekonomi) dari sisi investasi. Jadi diharapkan nanti ada pertumbuhan investasi sebesar 10% sehingga bisa mengejar pertumbuhan 8% itu. Juga ada pertumbuhan ekspor di kisaran 9%,” ucap Theodore dalam Economic & Business Outlook 2025, dikutip Jumat (3/1/2025). Dalam kesempatan tersebut ia mengatakan investasi yang bertumbuh merupakan kunci terciptanya pertumbuhan ekonomi 8%.
Dia memaparkan, dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di kisaran 5% meskipun dibayangi tantangan seperti tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang berimbas pada efisiensi ekonomi.
Theodore Sutarto menjelaskan, saat ini kondisi Indonesia bahkan dunia sedang tidak baik-baik saja. Selain konflik perang, perubahan pemerintahan Amerika Serikat (AS) yang baru juga patut diwaspadai karena masa depan masih buram.
Baca Juga
Pemerintah Klaim Program MBG Akan Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Hampir 1%
Dia mengimbau sejumlah negara khususnya Indonesia, tetap waspada terhadap kebijakan pemerintahan baru AS pimpinan Donald Trump yang bisa berdampak pada perekonomian global.
Theodore juga menilai bahwa sebenarnya peningkatan konsumsi dalam negeri yang sebesar 5-6% sudah relatif baik dan bisa ikut menopang pencapaian pertumbuhan ekonomi 8%. Selain itu, dibutuhkan pula sokongan dari program hilirisasi, penguatan manufaktur dan peningkatan kinerja sektor pariwisata.
“Jadi tidak hanya hilirisasi yang memang sudah ada, juga ada penguatan manufaktur, sektor jasa, pariwisata, juga konstruksi, perumahan dan ekonomi digital,” kata dia.
Terkait porsi sumbangan dari sektor ekonomi digital, dia mengaku pemerintah belum memiliki konsensus seberapa besar sektor ini bisa berkontribusi pada pendapatan domestik bruto (PDB). Namun, pihaknya mengatakan akan mengunakan pendekatan input output.
“Semua aktivitas ekonomi yang dapat intervensi input digital baik data, atau teknologi digital lainnya dihitung sebagai aktivitas digital,” papar Theodore.
Dalam kesempatan serupa, Direktur Ekonomi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Bonifasius menyebut, kendati saat ini Indonesia berada di jalur transformasi besar menuju cita-cita 2045 dengan angka pertumbuhan ekonomi yang bisa mencapai 8%, upaya mengejar angka pertumbuhan sebesar itu bukanlah hal yang mudah.
“Kali ini harus konsisten di angka sekitar 8% setiap tahunnya. Untuk mencapai target ini tidak mudah dan kita harus berjuang. Tapi, apabila kita masih terus menjaga pertumbuhan ekonomi 8%, maka kita bisa menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor 7 bahkan nomor 5 di dunia,” ungkap Bonifasius.
Dalam konteks tersebut, kata dia, teknologi digital menjadi peranan strategis sekaligus menjadi key enabler pertumbuhan berbaagai sektor. Oleh sebab itu, dirinya mengimbau agar berbagai pihak saling bersinergi serta berkolaborasi untuk mencapai hal tersebut.
“Tidak boleh berhenti berinovasi, perjalanan menuju 8% itu memang tidak mudah. Tapi jangan berhenti berinovasi dan berkolaborasi,” tegas dia.

