Pemerintah Diharapkan Terapkan Model Ekosistem Sawit Demi Majukan Pertanian Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - CEO Dare Indonesia sekaligus Ketua Penyelenggara Agrinex Expo 2025 Rifda Ammarina menyebutkan pemerintah harus menerapkan model pembangunan ekosistem kelapa sawit pada sektor pertanian.
Rifda mengungkapkan, sejumlah kebijakan terhadap sektor pertanian nasional harus dilakukan secara serentak, yakni di antaranya adalah mengenai persoalan lahan, kebutuhan benih, pupuk hingga akses pembiayaan.
"Ada empat hal yang harus dibangun oleh pemerintah untuk membangun ekosistem pertanian. Lahan, kebetulan benih, kemudian puk-puk, kemudian pembiayaan," ucap Ridfa pada acara opening ceremony Agrinex 2025 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Ia menilai, kebijakan-kebijakan tersebut tidak bisa dilakukan satu-persatu, dan seharusnya dilakukan secara serentak serta terkoordinasi. Apabila skema tersebut dilakukan pada sektor hortikultura, pangan dan komoditas non-sawit maka akan mendorong kontribusi pertanian terhadap perekonomian nasional.
"Kalau hanya programnya satu persatu, namanya tahun ini bantu lahan, tidak ada yang nanam. Terus kalau mau abis itu hanya duitnya saja, lahannya enggak punya, duitnya dipakai buat yang lain. Jadi harus seperti yang dilakukan," terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag Fajarini Puntodewi menjelaskan, masih terdapat sejumlah tantangan produk pertanian nasional untuk bisa tembus ke pasar global, salah satunya dalah mengenai standar internasional.
"Contohnya, isu lalat buah masih menjadi hambatan untuk ekspor buah segar, masalah ini sudah puluhan tahun belum terselesaikan. Padahal peningkatan kualitas produk tidak hanya penting untuk ekspor, tetapi juga untuk konsumen domestik," ungkap Punto.
Kendati demikian, Punto mengatakan, Kemendag hingga saat ini terus berupaya agar produk pertanian Indonesia dapat menembus pasar internasional, seperti di antaranya sejumlah komoditas yang sudah tembus ke China.
"Kementerian Perdagangan juga telah menyelesaikan protokol ekspor buah segar ke Tiongkok, meliputi durian, manggis, dan salak. Dengan protokol ini, pintu ekspor sudah terbuka, tetapi produk tetap harus memenuhi standar negara tujuan," imbuhnya.

