Yield Obligasi AS Naik, Kurs Rupiah Melemah Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat Jumat (13/12/2024) pagi, tertekan yield obligasi AS yang meningkat. Dilansir Yahoo Finance, nilai tukar mata uang Garuda melemah 40 poin (0,25%) ke level Rp 15.929/USD hari ini, dibanding kemarin yang ditutup di Rp 15.919/USD.
Imbal hasil obligasi US Treasury 10 tahun tercatat naik pada Kamis (12/12/2024), ketika investor mempertimbangkan laporan inflasi grosir AS bulan November yang lebih tinggi dari ekspektasi. UST 10 tahun mencatatkan imbal hasil sebesar 4,31%, naik lebih dari tiga basis poin. Sementara, US Treasury 2 tahun naik lebih dari satu basis poin menjadi 4,17%.
Pejabat The Fed tidak akan memberikan komentar terkait data inflasi minggu ini. Hal itu karena sudah masuk periode tenang (blackout period), yang melarang mereka berbicara di depan publik menjelang pertemuan Bank Sentral AS.
| Perkembangan rupiah terhadap USD dalam lima tahun terakhir berdasarkan kurs Jisdor BI, hingga 12 Desember 2024. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
Simak Rekomendasi Saham Hari Ini ANTM, EXCL, PANI, ISAT, dan SCMA
Dari dalam negeri, pergerakan kurs rupiah yang melemah ditenggarai juga tertekan capital outflow yang terjadi lagi dan mrerespons pelaku pasar yang wait and see terhadap hasil inflasi AS terbaru. Asing tercatat kembali melepas saham-saham di bursa Indonesia kemarin.
Berdasarkan data pasar pada perdagangan Kamis kemarin, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) atau outflow mencapai Rp 2,18 triliun di seluruh pasar. Rinciannya sebesar Rp 1,13 triliun di pasar reguler serta Rp 1,06 triliun di pasar tunai dan negosiasi.
Data Terakhir Sebelum Pertemuan The Fed
Sementara itu, laporan indeks harga produsen (PPI) AS yang dirilis Kamis menunjukkan harga grosir naik 0,4% pada November, dua kali lipat dari perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones sebesar 0,2%. Di saat yang sama, lonjakan data klaim pengangguran di Negeri Paman Sam mengindikasikan potensi pelemahan ekonomi, yang membatasi sebagian kenaikan imbal hasil.
Laporan ini muncul sehari setelah laporan indeks harga konsumen (CPI) untuk November yang dirilis Rabu menunjukkan tingkat inflasi tahunan sebesar 2,7% dan kenaikan bulanan 0,3%. Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, tercatat sebesar 3,3% secara tahunan dan 0,3% bulanan. Semua angka tersebut sejalan dengan perkiraan konsensus Dow Jones.
Pembaruan inflasi ini menjadi data terakhir yang akan dilihat oleh para pembuat kebijakan Federal Reserve sebelum pertemuan minggu depan, di mana pemangkasan suku bunga acuan AS ketiga tahun ini diharapkan akan terjadi. Sedangkan secara umum, pasar memprediksi The Fed akan melewatkan pemotongan Fed Funds Rate pada Januari, sambil mengukur dampak dari pemotongan sebelumnya terhadap ekonominya.
"Sebelumnya, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan lalu tumbuh 2,7% secara tahunan (year-on-year), dari sebelumnya pada Oktober tumbuh 2,6%. Sedangkan secara bulanan (month-to-month), IHK AS pada November lalu tumbuh 0,3%, dari sebelumnya pada Oktober tumbuh 0,2%. Data inflasi indeks harga konsumen yang sejalan membuat para pedagang meningkatkan taruhan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga minggu depan, pasar memperkirakan peluang 98% untuk pemangkasan 25 basis poin, menurut CME Fedwatch," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, dikutip Jumat (13/12/2024).
Baca Juga
Asing Berbalik Net Sell Saham Rp 2,18 Triliun Kamis, di SBN Net Buy Rp 0,07 Triliun

