Asing Mulai Net Buy Saham Rp 0,30 Triliun Senin, di SBN Net Sell Kamis
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing berbalik arah mulai masuk saham dengan transaksi net buy Rp 0,30 triliun di Bursa Efek Indonesia, Senin (9/12/2024). Capital inflow ini menambah akumulasi pembelian bersih month to date menjadi Rp 1,37 triliun dan year to date Rp 22,92 triliun.
Sedangkan di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi pada Kamis lalu (5/12/2024), dengan non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan melanjutkan jual neto Rp 0,49 triliun. Namun, secara month to date, asing masih mencatatkan pembelian bersih Rp 1,89 triliun hingga Kamis lalu, dan secara ytd net buy Rp 30,84 triliun hingga Kamis lalu.
Baca Juga
Bunga SRBI Naik Tembus 7,23%
Sementara itu, pada lelang terakhir Jumat lalu (6/12/2024), Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah BI (SRBI) menjadi tertinggi 7,23% untuk tenor 12 bulan, meningkat 0,20 persen poin dibanding lelang sebulan sebelumnya 8 November sebesar 7,03%.
Sedangkan suku bunga acuan, BI Rate, sejak 18 September 2024 diturunkan 25 bps dari 6,25% menjadi 6,00% dan bertahan hingga kini. Sementara Fed Funds Rate dalam periode sama sudah diturunkan oleh The Fed sebesar 75 bps menjadi 4,50-4,75%, sehingga spread dengan BI Rate melebar ke 125 bps.
Baca Juga
Anindya: Segera Selesaikan IEU-CEPA, Indonesia Tingkatkan Akses Pasar US$ 17 Triliun
Kurs Rupiah Ditutup Melemah Tipis
Jisdor Bank Indonesia mencatat kurs rupiah melemah tipis 13 poin (0,08%) ke level Rp 15.861/USD pada penutupan perdagangan Senin (9/12/2024), dibanding Jumat (6/12/2024) di Rp 15.848/USD. Sentimen global dominan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah pasukan pemberontak mengambil alih Ibu Kota Suriah, Damaskus, dan menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, yang melarikan diri ke Rusia. Selain itu, ketidakpastian yang meningkat atas arah pemangkasan suku bunga AS membuat traders lebih menyukai dolar dan obligasi pemerintah AS.
Dari dalam negeri, survei konsumen oleh Bank Indonesia yang dirilis Senin (9/12/2024) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November 2024 sebesar 125,9, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 121,1. Ini mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
"Meningkatnya keyakinan konsumen pada November 2024 didukung oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing tercatat sebesar 113,5 dan 138,3. Ini lebih tinggi dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 109,9 dan 132,4. IKE dan IEK tercatat meningkat pada seluruh komponen pembentuknya," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 9 Desember 2024.
Perkembangan Makroekonomi Penting
Sementara itu, sejumlah perkembangan makroekonomi penting yang menjadi perhatian publik antara lain kebijakan peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% per 1 Januari 2025 berlaku untuk barang-barang mewah. Ini seperti mobil mewah, apartemen mewah, dan rumah mewah.
Jenis kendaraan tergolong mewah, misalnya, mengacu Peraturan Menteri Keuangan No 141/PMK.010/2021 tentang Penetapan Jenis Kendaraan Bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan Tata Cara Pengenaan Pemberian dan Penatausahaan Pembebasan, dan Pengembalian Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Ini termasuk kendaraan bermotor angkutan orang untuk pengangkutan kurang dari 10 orang -- termasuk pengemudi -- dengan kapasitas isi silinder sampai 3.000 cc. Untuk kendaraan bermotor beroda 2 atau 3 dengan kapasitas isi silinder lebih dari 250-500 cc termasuk barang mewah.
Sementara untuk barang lainnya masih akan dikenakan ketentuan tarif PPN seperti saat ini, misalnya untuk barang-barang pokok dan berkaitan dengan pelayanan yang langsung menyentuh masyarakat. Di sisi lain, DPR mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto agar PPN kebutuhan pokok diturunkan dan Presiden menjawab akan dipertimbangkan dan dikaji.
Hal lain terkait ketenagakerjaan. Sesuai Permenaker Nomor 16 Tahun 2024, formula perhitungan upah minimum 2025 adalah upah minimum provinsi (UMP) dan kota/kabupaten (UMK) tahun 2024 ditambah nilai kenaikan upah minimum 2025 sebesar 6,5%. Besaran kenaikan ini seperti yang telah diumumkan Presiden Prabowo.
Kementerian Ketenagakerjaan sebelumnya memastikan tidak akan menggunakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2023 sebagai acuan menentukan skema perhitungan upah minimum, termasuk UMP 2025, sesuai hasil putusan Mahkamah Konsititusi (MK). Sebelum keputusan MK, penetapan kenaikan upah minimum tahun 2024 dilakukan mengacu pada formulasi PP No 51/2023, di mana faktor kenaikan UMP dihitung dari hasil inflasi + (pertumbuhan ekonomi X indeks tertentu/α).
Sementara itu, berdasarkan data terbaru BPS, tingkat inflasi month to month (mtm) November 2024 sebesar 0,30%, lebih tinggi dibanding pada Oktober 2024 sebesar 0,08%, terutama disumbang kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Sedangkan tingkat inflasi year to date (ytd) 1,12%, dan year on year (yoy) 1,55%.
Pada November 2024, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,17% mtm dengan andil inflasi 0,11%, inflasi ytd 2,09%, dan yoy 2,26%. Ini sesuai rentang sasaran BI inflasi 2,5±1% pada 2024. Sedangkan komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,12% mtm pada November dengan andil inflasi 0,02%, dan komponen harga bergejolak mengalami inflasi 1,07% dengan andil inflasi 0,17%.
Untuk Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III-2024 membaik, dengan mencatatkan surplus 5,9 miliar dolar AS, dari sebelumnya defisit 0,6 miliar dolar AS triwulan II-2024. NPI 2024 diprakirakan tetap baik, dengan defisit neraca transaksi berjalan terjaga dalam kisaran rendah 0,1-0,9% produk domestik bruto (PDB).
Surplus NPI triwulan III-2024 ditopang oleh surplus neraca transaksi modal dan finansial yang meningkat, serta defisit neraca transaksi berjalan lebih rendah. Neraca transaksi modal dan finansial mencatatkan surplus 6,6 miliar dolar AS pada triwulan III, meningkat dibandingkan surplus 3,0 miliar dolar AS triwulan II-2024.
Neraca transaksi berjalan mencatatkan defisit 2,2 miliar dolar AS (0,6% dari PDB), lebih rendah dibandingkan defisit 3,2 miliar dolar AS (0,9% dari PDB) triwulan II-2024. Alhasil, cadangan devisa meningkat dari sebesar 140,2 miliar dolar AS pada akhir Juni 2024 menjadi 149,9 miliar dolar AS pada akhir September. Cadev kembali naik menjadi 151,2 miliar dolar AS pada Oktober, kemudian turun 0,66% pada November 2024 menjadi 150,2 miliar dolar AS.

