Anin: Kanada Jadi Pintu Masuk Dongkrak Ekspor ke Amerika
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyebut Kanada berpotensi menjadi pintu masuk untuk mendongkrak ekspor Indonesia ke kawasan Amerika Utara. Hal ini bermanfaat terutama untuk meningkatkan ekspor dari hasil program hilirisasi dan industrialisasi nasional.
"Salah satu upaya yang tengah digodog pemerintah adalah melakukan hilirisasi, khususnya di sektor mineral. Melalui hilirisasi sektor mineral, Indonesia tidak hanya mengejar target pertumbuhan ekonomi 8%, tapi juga berupaya memangkas angka kemiskinan dan kelaparan di tengah masyarakat," ujar pengusaha dan investor global yang akrab disapa Anin, dalam Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA CEPA) Forum Panel Discussion, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2024).
Baca Juga
Namun sampai saat ini, kata Anin, Indonesia belum memiliki CEPA dan perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara di kawasan Amerika Utara, seperti Amerika Serikat. Padahal, AS merupakan pasar mobil listrik terbesar kedua di dunia, setelah Cina, yang bisa menyerap produk hilirisasi mineral Indonesia.
Dengan ICA CEPA, lanjut dia, Kanada berpotensi menjadi pintu masuk ekspor komoditas mineral pengusaha Indonesia ke kawasan Amerika Utara. "Jadi, kalau kita membicarakan mengenai Amerika Utara, Kanada bisa menjadi gerbang masuk (ekspor) ke Amerika Utara bagi Indonesia. Atau mungkin Indonesia bisa menjadi gerbang masuk (ekspor) Kanada ke kawasan ASEAN," kata Anin.
CEO PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ini mengungkap, potensi ekspor Indonesia ke kawasan Amerika Utara, khususnya pada komoditas mineral, merupakan hal penting. Hal ini, kata Anin, lantaran Indonesia telah memberlakukan hilirisasi pada sektor mineral, yang bermanfaat besar.
Dia menambahkan, manfaat hilirisasi mineral juga dialami di sektor manufaktur seperti pembuatan kendaraan listrik. "Kita melihat mineral kritis itu banyak atau melimpah di Indonesia timur. Itu akan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat di Indonesia Timur, tapi tidak akan ada artinya kalau tidak punya akses ke pasar (global). Dan, Kanada menyediakan akses ke pasar tersebut, menurut saya itu sesuatu yang sangat berdampak," tandas Anin.
Transfer Teknologi
Selain membuka pasar ekspor mineral di kawasan Amerika Utara, Anindya melihat kerja sama Indonesia-Kanada akan berpotensi menghasilkan transfer teknologi di antara kedua negara. Dia juga berharap lewat kerja sama ini, Indonesia dapat menyerap penerapan teknologi terkini pada sektor manufaktur, termasuk di sektor pakaian dan tekstil.
Anin mengatakan, penerapan teknologi maju juga diharapkan akan diserap oleh sektor pertanian, untuk membangun pertanian cerdas. Dia mencontohkan dengan mengadopsi teknologi dari Kanada, para petani dapat memodifikasi bibit-bibit genetik untuk kebutuhan pertumbuhan sektor pertanian di Tanah Air.
Baca Juga
Rencana Cukai Minuman Berpemanis: Langkah Manis atau Beban Baru Rakyat?
Dia meyakini Indonesia merupakan pusat yang tepat untuk menguji teknologi terbaru. Apalagi, setengah dari populasi Indonesia merupakan penduduk yang melek literasi digital, dengan rentang usia di bawah 30 tahun.
"Jadi aplikasi apa pun, layanan, teknologi, khususnya dengan meledaknya artificial intelligence (kecerdasan buatan), dengan perkembangan ini, Indonesia menjadi tempat yang baik untuk menguji teknologi-teknologi yang sedang dibangun," ungkap Anin.
RI-Kanada Teken Perjanjian CEPA
Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso membeberkan, Indonesia dan Kanada baru saja menandatangani pernyataan bersama penyelesaian Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Penandatanganan dilakukan Mendag Budi dan Menteri Promosi Ekspor, Perdagangan Internasional, dan Pembangunan Ekonomi Kanada Mary Ng pada pembukaan kegiatan Misi Dagang Kanada ke Indonesia, Senin (2/12/2024), di Jakarta. Budi mengatakan, perjanjian perdagangan komprehensif Indonesia dan Kanada ini akan memperluas pasar produk Indonesia, terutama ke Amerika Utara.
“Setelah perjuangan kedua tim perunding selama lebih dari 2,5 tahun, Indonesia akhirnya berhasil memiliki perjanjian perdagangan komprehensif dengan Kanada. Melalui Indonesia-Canada CEPA ini, akses pasar produk-produk Indonesia akan semakin luas hingga ke wilayah Amerika Utara, khususnya Kanada,” ujar Budi Santoso.

