JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah dalam perdagangan Senin (2/12/2024). Jisdor Bank Indonesia (BI) merilis kurs rupiah ditutup melemah 49 poin ke level Rp 15.905/USD, dibanding pada Jumat (29/11/2024) lalu di posisi Rp 15.856/USD.


Sementara itu, kurs Bank Permata mencatat mata yang rupiah melemah 0,35% ke level Rp 15.900/USD. "Pada hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi Indonesia bulan November, yang tercatat 0,3% month-to-month, dari sebelumnya 0,08% month-to-month pada Oktober. Sementara, inflasi tahunan tercatat melambat 1,55% year-on-year dari 1,71% year-on-year," kata Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede kepada Investortrust, Jakarta, Senin (2/12/2024). 

Baca Juga

Naik, Inflasi Capai 0,3% November karena Makanan


Inflasi bulan November 2024 lebih tinggi dari Oktober 2024, tapi lebih rendah dari November 2023. Adapun kelompok pengeluaran penyumbang inflasi terbesar pada November yaitu makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,78% dan andil 0,22%. Komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok ini adalah bawang merah dan tomat, yang masing-masing memberikan andil inflasi 0,1%.


Terdapat pula komoditas lain yang memberi inflasi yakni emas perhiasan dengan andil inflasi 0,04%, daging ayam ras, dan minyak goreng dengan andil inflasi 0,03%. 

Baca Juga

Harga Minyak Anjlok Lebih dari 3% dalam Sepekan, Ini Faktor Pemicunya

Sentimen Global

Tidak hanya sentimen domestik, Ekonom Bank Permata tersebut mengungkap melemahnya rupiah dalam perdagangan hari ini juga dipicu oleh sentimen global. Dari analisis Josua, hal itu adalah pernyataan Presiden Terpilih AS Donald Trump pada akhir pekan terkait pengenaan tarif bagi anggota BRICS yang berencana membuat mata uang baru pengganti dolar AS.


"Pernyataan tersebut mendorong kekhawatiran terkait meningkatya tensi dagang antara negara-negara berkembang. Ini pada akhirnya mendorong pelemahan mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah," ungkap dia.


Sementara untuk perdagangan Selasa (3/12/2024) esok hari, Josua memperkirakan mata uang rupiah akan cenderung bergerak melemah pada kisaran Rp 15.875/USD - Rp 15.975/USD.


"Rupiah berpotensi melemah pada hari Selasa. Hal ini seiring dengan potensi peningkatan data PMI manufaktur AS," tutur dia.