Perry: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Naik hingga 5,6% Tahun 2025
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 akan lebih baik, mencapai hingga 5,6%. Stabilitas rupiah juga akan dijaga dan pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan naik menjadi 11-13% tahun depan, dibanding tahun ini yang diperkirakan 10-12%.
Hal itu dikatakan Perry Warjiyo dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2024 bertema “Sinergi Memperkuat Stabilitas dan Transformasi Ekonomi Nasional”, di Jakarta, Jumat (29/11/2024). Pertemuan dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
"Pertumbuhan ekonomi akan membaik, mencapai 4,8% sampai 5,6% pada 2025 dan 4,9% sampai 5,7% pada 2026. Ini bisa terjadi jika segala elemen bersinergi. Di bidang ekonomi mari kita memperkuat stabilitas dan transformasi ekonomi nasional, mari kita perkuat sinergi untuk melindungi negara, bangsa, dan rakyat dari gejolak global," ujar Perry.
Video: Investortrust/Primus Dorimulu.
Baca Juga
Peluang Pemangkasan FFR Naik, Kurs Rupiah Dibuka Menguat Jumat Pagi
Perry menegaskan, sinergi bauran kebijakan transformasi ekonomi nasional perlu semakin diperkuat. Ia memproyeksikan konsumsi dan investasi di Indonesia akan meningkat. Ekspor juga diprediksi membaik, kendati di tengah gejolak dan perlambatan ekonomi global.
Dia juga memperkirakan inflasi tetap dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2025 dan 2026. Optimisme ini muncul karena konsistensi kebijakan moneter, fiskal, dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
“Nilai tukar rupiah tahun 2025 akan dijaga stabil, didukung stabilitas eksternal yang diproyeksikan terjaga. Neraca pembayaran sehat dan cadangan devisa meningkat,” ujar dia.
Perry menyatakan, stabilitas sistem keuangan juga terjaga. Hasil stress test menunjukkan ketahanan sistem keuangan Indonesia dari dampak gejolak global.
“Pertumbuhan kredit akan kami perkirakan meningkat, 11% sampai 13% pada 2025 dan 2026. Ketahanan sistem keuangan yang terjaga didukung ekonomi keuangan digital yang meningkat pesat. yang ditandai dari transaksi e-commerce, digital banking, dan uang elektronik yang tumbuh tinggi,” ucap dia.
Trump Picu Ketidakpastian Global
Perry Warjiyo mengatakan lebih lanjut, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat mendatang akan meningkatkan ketidakpastian perekonomian global. Trump dengan kebijakan American First dapat membawa perubahan besar pada lanskap geopolitik dan perekonomian dunia.
Perry menjelaskan, terpilihnya Trump akan memunculkan kebijakan ekonomi proteksionisme dengan tarif tinggi dan perang dagang. Dia memprediksi hal ini akan memunculkan disrupsi rantai pasok dagang, serta fragmentasi ekonomi dan keuangan.
“Akibatnya prospek ekonomi global akan meredup pada 2025 dan 2026. Ketidakpastian semakin tinggi dengan lima karakteristik,” ucap dia.
Baca Juga
Lima karakteristik ketidakpastian ekonomi yang dipaparkan Perry antara lain, pertama, slower and divergent growth. Dia menyebut pertumbuhan dunia akan menurun 2025 dan 2026.
“Pertumbuhan ekonomi AS membaik, namun Cina dan Eropa akan melambat. Sedangkan India dan Indonesia masih cukup baik,” kata dia.
Kedua, reemergence of inflation pressures. Perry mengatakan penurunan inflasi dunia akan melambat, bahkan inflasi berisiko naik pada 2026. Hal ini karena gangguan rantai pasok dan perang dagang. Ketiga, kebijakan higher US interest rate, sehingga penurunan Fed Funds Rate (FFR) akan lebih rendah.
“Sementara yield US Treasury akan naik tinggi ke 4,7% di 2025 dan 5% pada 2026. Hal ini karena membengkaknya defisit fiskal dan utang pemerintah AS,” ujar dia.
Keempat, strong US dollar. Perry mengatakan indeks dolar Amerika menguat dari 101 ke 107. Hal ini mengakibatkan tekanan depresiasi nilai tukar mata uang lain di seluruh dunia, termasuk rupiah. Ia berharap dolar AS tidak menguat lagi.
Kelima, invest in AS. Perry mengatakan investasi di AS menjadi preferensi yang berkembang bagi investor global. Akibatnya, ucap dia, terjadi pelarian modal dari emerging market ke AS karena tingginya suku bunga AS dan kuatnya dolar.
“Gejolak global berdampak negatif ke berbagai negara. Indonesia tidak terkecuali dan ini perlu kita antisipasi, kita waspadai, dengan respons kebijakan yang tepat, untuk ketahanan dan kebangkitan ekonomi nasional yang telah susah payah kita bangun,” ucap dia.
Sinergi 5 Kebijakan Transformasi
Meski gejolak global berdampak negatif ke berbagai negara, Perry menegaskan, Bank Indonesia bersama pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan akan memperkuat sinergi 5 kebijakan transformasi ekonomi. Hal ini insya Allah akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi RI tinggi ke depan.
“Pertama, sinergi memperkuat stabilitas makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan. Kedua, sinergi mendorong permintaan domestik khususnya konsumsi dan meningkatkan investasi,” ucap Perry.
Ketiga, sinergi meningkatkan produktivitas dan kapasitas ekonomi nasional. Keempat, sinergi pendalaman keuangan untuk pembiayaan perekonomian. Kelima, sinergi digitalisasi sistem pembayaran dan ekonomi keuangan digital nasional.
“Stabilitas sangatlah penting bagi negara mana pun untuk bisa tumbuh tinggi. Kredibilitas Indonesia diakui secara internasional sebagai negara dengan disiplin tinggi, itulah kunci ketahanan menghadapi gejolak global,” tutur Perry.
Sinergi fiskal dan moneter yang sangat erat perlu semakin diperkuat ke depan, lanjut Perry, baik dalam pengendalian inflasi dan defisit fiskal, stabilisasi rupiah, maupun dalam penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah. Selain itu, dalam operasi moneter Bank Indonesia dan efektivitas peraturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Sinergi juga dilakukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Selain itu, dalam implementasi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) untuk pengawasan dan resolusi permasalahan lembaga keuangan, pendalaman pasar keuangan, literasi keuangan, dan perlindungan konsumen.
Perry juga menekankan, konsumsi sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan. Ini khususnya golongan masyarakat bawah, dengan memberi perlindungan sosial dan penciptaan lapangan kerja.
Sektor padat karya juga perlu menjadi prioritas pemerintah. Hilirisasi perlu dilakukan di sektor pertanian dan perikanan, perumahan khususnya perumahan rakyat, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), ekonomi kreatif, serta pariwisata. Hilirisasi pangan juga perlu untuk penciptaan lapangan kerja yang besar, mendukung pengendalian inflasi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pertumbuhan tinggi, lanjut Perry, mengharuskan pula transformasi di ekonomi di sektor riil. Produktivitas perlu kita naikkan lebih tinggi, dan tingginya biaya investasi perlu kita turunkan.
“Kita perlu mengejar ketertinggalan masuknya PMA (penanaman modal asing), dibanding negara tetangga (terutama Singapura). Karenanya, masuknya modal perlu kita naikkan dengan perbaikan iklim investasi, akselerasi realisasi PMA, dan mendorong sektor padat modal,” tandas Perry.
Dengan adanya kenaikan tenaga kerja Indonesia, lanjut Perry, perlu kita dorong penyerapannya dengan memberikan pendidikan vokasi dan masuk sertifikasi profesi. Selain itu, diberikan stimulus di sektor padat karya.
“Produktivitas dikejar dengan pembangunan infrastruktur dan rantai pasok nasional dan global. Di sisi ekonomi, sistem pembayaran, jasa keuangan, dan perkantoran juga bisa menaikkan produktivitas. Dengan sinergi kelima kebijakan transformasi ekonomi nasional tersebut, ekonomi Indonesia insya Allah bisa tumbuh lebih tinggi, stabilitas makroekonomi terjaga,” tegas Perry.
Bank Indonesia, lanjut Perry juga mendukung 40 proyek pemerintah dalam Asta Cita. Hal ini akan mendorong kapasitas dan produktivitas ekonomi nasional ke depan, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi melalui peningkatan modal, penyerapan tenaga kerja, dan kenaikan produktivitas.
“Pada waktunya nanti, kami akan memohon arahan Bapak Presiden. Kami, Bank Indonesia, berkomitmen untuk semakin memperkuat sinergi kebijangan dengan pemerintah, KSSK, dan berbagai pihak untuk memperkuat stabilitas dan transformasi ekonomi nasional, mencapai pertumbuhan tinggi menuju Indonesia Emas (menjadi negara maju tahun 2045),” ucapnya.

