Menanti Lahirnya Mata Uang BRICS, Apa Pentingnya?
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID – Lima pemimpin dunia yang mewakili emerging economy telah menyepakati akan diterbitkannya mata uang bersama, yaitu uang BRICS. Momentum yang diabadikan dalam foto bersama para pendiri BRICS pun menarik perhatian dunia.
Tawaran oleh KTT BRICS di Kazan, Rusia, itu sangat menginspirasi belahan Dunia Selatan. Negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Pasifik Selatan yang sekarang menuntut keadilan dalam pengelolaan sumber daya dunia ini sedang menanti opsi tata dunia baru.
Ketika diluncurkan tahun 2006, BRICS (Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, serta Afrika Selatan yang bergabung pada 2010) mengusung klaim yang adil untuk mewakili kekuatan ekonomi baru dunia. Ekspansi yang dilakukan secara besar-besaran telah menambah empat negara, yaitu Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Tahun lalu, kelompok ini juga bisa memperkuat statusnya dengan mengundang negara-negara berkembang yang besar dan demokratis (walaupun tidak sempurna) seperti Meksiko, Nigeria, dan Indonesia, yang akan menyusul menjadi anggotanya.
Baca Juga
Indonesia Ingin Gabung OECD dan BRICS, Prabowo: Kita Cari Peluang untuk Kesejahteraan Rakyat
Tujuan utama BRICS saat ini adalah untuk menggambarkan citra Rusia dan Tiongkok sebagai pemimpin negara-negara yang disebut Global Selatan. Untuk menjaga tujuan tersebut, pertemuan Kazan memiliki penekanan anti-G7 yang sesuai, yakni melengserkan dolar Amerika Serikat yang perkasa dan menggantinya -- dalam perdagangan dan keuangan global -- dengan mata uang yang dikeluarkan oleh BRICS.
Pendukung utama inisiatif ini adalah Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva. Pada Januari 2023, Lula mengumumkan bahwa negaranya dan Argentina akan meluncurkan mata uang bersama -- yang pada akhirnya akan mencakup Paraguay dan Uruguay -- menjadi mata uang blok perdagangan Mercosur. Namun, hal ini belum terjadi, begitu pula dengan pelengseran dolar oleh mata uang BRICS, setidaknya tidak seperti yang Lula bayangkan.
Uang Harus Punya 3 Peran
Buku pengantar ekonomi mana pun akan memberi tahu Anda bahwa mata uang harus memainkan tiga peran. Pertama, ia harus berfungsi sebagai satuan hitung: harga sepotong roti dinyatakan dalam dolar AS, peso Kolombia, atau shilling Kenya. Oleh karena itu, pada KTT BRICS sebelumnya, para anggota telah membahas pembuatan unit akun bersama, yang sementara ini dikenal sebagai R5 (karena mata uang kelima anggota asli BRICS dimulai dengan “r”).
Kelayakan proposal ini akan bergantung pada seberapa stabil R5 tersebut. Sementara, bagian terbesar perdagangan dunia menggunakan dolar AS, karena inflasi AS yang rendah membuat harga sebagian besar barang dalam dolar dapat diprediksi secara masuk akal.
Kedua, mata uang juga harus berfungsi sebagai alat tukar. Seorang mekanik yang ingin makan hamburger, ia terlebih dahulu bekerja dan dibayar dalam mata uang lokal, kemudian menggunakannya untuk membeli makanan di restoran lokal. Persamaan globalnya adalah penduduk Delhi yang menginginkan kopi dari Brasil terlebih dahulu menggunakan rupee India untuk membeli dolar AS guna membayar eksportir Brasil, yang kemudian menukar dolar tersebut dengan real Brasil untuk memberi upah kepada para pekerjanya.
“Setiap malam saya bertanya pada diri sendiri, mengapa semua negara harus mendasarkan perdagangan mereka pada dolar. Sebenarnya jawabannya sederhana. Untuk membiayai pengeluaran keluarga mereka, pekerja gula di Brasil membutuhkan real, yang dapat dibeli dengan mudah dan murah dengan dolar AS, namun tidak dengan rupee India, rand Afrika Selatan, atau birr Ethiopia,” kata Lula dalam pidatonya di New Development Bank di Shanghai, tahun lalu.
Baca Juga
Komunike KTT Kazan memang menyerukan penggunaan lebih besar mata uang anggota BRICS, dibandingkan dolar AS, dalam perdagangan di antara mereka sendiri. Namun, hal ini hanya akan berhasil jika perdagangan antara kedua negara selalu seimbang.
Misalnya, jika konsumen Brasil ingin membeli beras dari India dengan nilai yang sama dengan kopi yang ingin dibeli orang India dari Brasil, dengan setiap periode perdagangan akan berakhir dengan tidak ada lagi pihak yang memegang mata uang pihak lain. Namun, jika nilai ekspor India ke Brasil secara sistematis lebih kecil dibandingkan nilai ekspor Brasil ke India, maka perusahaan-perusahaan Brasil akan mengakumulasi saldo rupee yang besar, yang jelas merupakan hal yang tidak bisa dilakukan.
Diskusi pasca-Kazan telah menekankan bagaimana keadaan akan berubah, jika negara-negara BRICS mengeluarkan mata uang digital, sesuatu yang telah mulai diluncurkan oleh Tiongkok selama dekade terakhir. Dengan mata uang saat ini, semua transaksi internasional -- masuk dan keluar dolar -- dilakukan melalui bank komersial, sedangkan transaksi mata uang digital tidak memerlukan perantara swasta dan hanya melibatkan bank sentral.
Namun, masalah ketidakseimbangan perdagangan tidak akan hilang. Akankah bank sentral Brasil merasa nyaman memiliki saldo rupee digital, real Iran digital, atau bahkan renminbi digital dalam jumlah besar? Tentu saja tidak.
Teka-teki yang sama akan muncul jika mata uang BRICS (kertas atau digital) menggantikan mata uang lokal untuk perdagangan intra-BRICS. Faktanya, masalahnya berasal dari penggunaan mata uang dalam peran yang ketiga, yakni sebagai penyimpan nilai. Dalam hal tabungan, kami hanya menggunakan mata uang yang kami percaya tidak akan dibekukan, disita, atau terkikis nilainya akibat inflasi.
Untuk melihat prinsip ini dalam praktiknya, lihat saja cadangan bank sentral. Sekitar 60% cadangan devisa global masih disimpan dalam dolar AS, meski turun dari 72% pada tahun 2000. Pada periode yang sama, renminbi tumbuh dari nol menjadi hanya 2,6%.
Hambatan Kendali Modal Tiongkok, Lonjakan Emas
Penyerapan renminbi yang sangat lambat itu sebagian mencerminkan banyaknya kendali modal yang dipertahankan Tiongkok. Namun yang lebih mendasar, hal ini terjadi karena nilai dolar didukung oleh institusi pemerintahan Amerika -- termasuk sistem peradilannya -- yang masih jauh lebih kredibel dibandingkan dengan Tiongkok.
Hal ini tidak berarti bahwa peran dolar AS sebagai mata uang cadangan global dijamin selamanya. Seperti yang terjadi dengan Inggris seabad yang lalu, segala sesuatunya dapat berubah, jika pangsa suatu negara dalam perekonomian dunia menyusut terlalu banyak.
Dan karena mata uang suatu negara akan bagus jika ditentukan oleh institusi yang dimilikinya, kelakuan Presiden Terpilih AS Donald Trump dan disfungsi di Washington tidak akan membantu kelanggengan jaminan tersebut. Jika ada jaminan, pembekuan aset-aset Rusia yang disimpan di luar negeri dan pengecualian bank-bank Rusia dari sistem pembayaran Barat tentunya tidak terjadi, betapa pun sanksi tersebut mungkin bisa dibenarkan dari sudut pandang politik dan etika.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina, bank sentral Tiongkok, India, Iran, Turki, dan negara-negara lain telah melakukan diversifikasi cadangan devisa mereka. Mereka menempatkan setidaknya sebagian simpanannya di luar jangkauan Amerika.
Apakah mereka memilih untuk membeli lebih banyak mata uang masing-masing, seperti yang disarankan oleh retorika KTT BRICS? Jauh dari itu. Sebaliknya, mereka membeli emas, sehingga harganya mencapai rekor tertinggi.
Begitulah beberapa tantangan yang dihadapi oleh BRICS dalam penerbitan mata uang bersamanya. Namun, penerbitan mata uang tersebut jelas spektakuler dan monumental.
Karenanya, pemimpin BRICS dan anggotanya harus sungguh-sungguh mampu menjamin uang bersama tersebut untuk memenuhi fungsi uang. Harus bisa kredibel sebagai alat tukar, sebagai alat ukur, dan sebagai penyimpan kekayaan.
Untuk mencapai tujuan BRICS itu, kuncinya sederhana. Pertama, melakukan dalam bentuk digital dulu yaitu Central Bank Digital Currency (CBDC). Kedua, semua transaksi internasional dengan anggota BRICS harus menggunakan mata uang R5 (mata uang bersama BRICS).
Ketiga, laju inflasi tertinggi BRICS harus dibatasi yaitu, misalnya maksimal 5%. Keempat, mata uang BRICS dijamin dengan emas atau perak. Kelima, harus ada komitmen hukum yang cepat dan tergaransi bahwa pemegang mata uang BRICS tidak bakal dibekukan asetnya.
Kalau BRICS bisa menjamin kelima hal tersebut, maka mata uang BRICS akan mampu menggeser dolar dalam waktu yang tak akan lama!
Jakarta, 4 November 2024

