Anggota DEN Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Kuat, Meski Ada Perlambatan Daya Beli
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochammad Firman Hidayat mengatakan bahwa pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tercapai sesuai target. Firman menjelaskan, dibanding banyak negara, Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang baik.
“Dari sisi indikator stabilitas inflasi, misalnya, kita masih relatif rendah,” kata Firman saat seminar nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2025, di Jakarta, Kamis (21/11/2024).
Firman mengatakan dari sisi defisit fiskal, Firman menjelaskan Indonesia relatif rendah dari banyak negara. “Artinya dibanding tekanan global tadi, kita tidak rentan posisinya ada ruangan untuk tumbuh tinggi,” ujar dia.
Beberapa lembaga ekonomi, seperti IMF, Bank Dunia, dan Bloomberg memprediksi perekonomian Indonesia akan mencapai 5,1% secara tahunan. Sementara, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi masih di angka 5,2% secara tahunan.
Baca Juga
Indonesia Economic Forum Nilai Penambahan Kementerian Bisa Pacu Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 8%
Meski mengundang optimistis, Firman memaparkan sejumlah tantangan dalam lanskap global di tingkat jangka pendek dan menengah. Untuk tantangan jangka pendek, Firman menyebut masalah yang akan dihadapi Indonesia dari sektor keuangan.
“Meski the Fed sudah mulai menurunkan suku bunga, tapi statement terakhir Gubernur the Fed tidak akan secepat yang diperkirakan,” kata dia.
Selain masalah menguatnya dolar AS, Firman juga menjelaskan ancaman perdagangan global yang dikelilingi fragmentasi. Fenomena ini muncul setelah Donald Trump, yang terpilih sebagai presiden, akan menerapkan tarif impor.
Baca Juga
Ekspor Harus Naik 9%, Jika Ingin Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%
“Tantangan lain yaitu pelemahan ekonomi China, harus kita cermati juga karena dia mitra dagang utama,” ucap dia.
Firman memaparkan perlambatan ekonomi China muncul karena krisis di sektor properti. Meski demikian, stimulus yang mencapai 19% dari PDB menunjukkan keseriusan China untuk mengembalikan pertumbuhan perekonomiannya.
“Tantangan lain juga ada climate changes, disrupsi digital, geopolitik yang harus kita address,” kata dia.

